Berharap Ahli Waris Bersatu

357

Sebagaimana tradisi, pemkab yang diwakili bupati dan jajaran pejabat teras lain biasanya melakukan kirab atau iring-iringan dengan membawa minyak jamas dari Pendopo Kabupaten ke Kadilangu. Namun, iringan-iringan yang dikawal prajurit patangpuluhan kini tidak lagi membawa minyak jamas seperti dulu. Tak hanya itu. Tradisi yang biasa dilakukan sebelumnya juga ada acara pasowanan antara bupati dengan pihak ahli waris Kadilangu dan sebaliknya.

Tradisi ini berjalan bertahun-tahun untuk menjalin silaturahmi antara bupati dengan ahli waris Kadilangu. Namun, sejak beberapa tahun terakhir pemkab hanya bisa berziarah. Pemkab tidak ingin membela salah satu pihak sehingga tetap berposisi ditengah-tengah (netral) sembari berharap tidak ada konflik lagi dikemudian hari utamanya dikalangan ahli waris Kadilangu. Seperti diketahui, dalam beberapa tahun ini, ketegangan selalu muncul saat prosesi penjamasan Kutang Ontokusumo dan Kiai Carubuk milik Sunan Kalijaga berlangsung. Ini terjadi diduga akibat ketidakharmonisan hubungan ahli waris, khususnya antara pihak Panembahan Kadilangu (Lembaga Adat/Yayasan Sunan Kalijaga) dengan pihak Kasepuhan Kadilangu. Akibat konflik ini, kedua kubu setiap Idul Adha tetap menginginkan sama-sama mengadakan acara penjamasan sendiri-sendiri. Padahal, sebelum ada konflik itu, tradisi prosesi penjamasan hanya berlangsung sekali.

Masyarakat menyayangkan konflik internal antara kubu Panembahan dengan Kasepuhan yang berlarut-larut. Mereka berharap, konflik bisa diselesaikan dengan baik sehingga tidak ada kubu-kubuan dalam melaksanakan prosesi penjamasan warisan leluhur itu. “Biasanya saat ada penjamasan ini kita bisa ngalap berkah. Tapi, melihat kondisi begini, kita sebagai masyarakat merasa bingung,”ungkap para peziarah.

Wakapolres Demak Kompol Yani Permana menuturkan, untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, kedua pihak telah dimediasi Polres Demak. Mereka dimediasi untuk saling berdamai dalam menjalankan prosesi penjamasan tersebut. Namun, dalam perkembangan yang ada, keduanya sulit menemui titik temu sehingga penjamasan tetap dilakukan dua kali. Yakni, penjamasan dijalankan pihak panembahan lebih dulu baru disusul pihak kasepuhan Kadilangu.