Selamat Berkat Pelampung Jaring

Tabrakan Tongkang v Kapal Nelayan

375

”Ada yang tertimpa kapal, mungkin mereka langsung meninggal apalagi saat itu ada jaring di atas kapal. Saya sempat menarik Bandrio ke dekat kapal yang terbalik hingga akhirnya ada kapal yang menolong,” katanya.

Ketika ditolong dengan dilempar tali oleh kapal yang melintas, ia hanya bisa berpegangan dengan sisa-sisa tenaganya. Ia pun mengaku tidak mengetahui bagaimana nasib teman-temannya. Bahkan mayoritas nelayan yang ikut melaut, ia tidak mengenali karena banyak nelayan pocokan.

”Banyak yang pocokan, hanya kenal muka. Saya hanya akrab dengan Sapawi dan Suratman yang masih hilang. Juga Pak Sinuwun yang meninggal, Subandrio dan Nasmo, nakhoda kapal,” jelasnya.

Setelah diselamatkan, Sinur langsung muntah-muntah kerena terlalu banyak menelan air laut. Ketika sadar, Sinur sudah berada di Dermaga Korowelang, Cepiring, dan mengetahui tiga teman lainnya sudah terbujur kaku ditutupi terpal. ”Bonari, Solekan, dan Sinuwun meninggal, sementara lima lainnya belum ditemukan,” ucapnya sedih.

Sebelum menjadi nelayan, bapak satu anak ini sempat bekerja di sebuah pabrik. Namun ia dipecat karena ada perampingan karyawan dari manajemen. Hingga akhirnya 5 tahun lalu, ayah dari M. Rizal ini menjadi seorang nelayan untuk menyambung hidup.

Ia mengaku upah menjadi nelayan tidaklah menentu, terkadang ia harus pulang dengan tangan hampa kerena tidak mendapatkan ikan dan hanya mendapatkan uang paling banyak Rp 100 ribu jika hasil ikan melimpah.

Saat ini, ia mengaku masih trauma dan enggan melaut. Duka di raut wajahnya pun masih terlihat ketika mengenang teman-teman akrabnya tergulung ombak besar pasca ditabrak kapal tongkang. ”Belum berani melaut Mas, masih trauma. Nggak tahu sampai kapan, pekerjaan ini memang penuh risiko,” tutupnya.

Subandrio, 38, korban selamat lainnya tidak menyangka jika pekerjaan yang biasa ia lakukan akan berakhir tragis. ”Saat itu masih pada sibuk menarik jaring, jadi nggak sadar kalau mau tertabrak kapal tongkang,” ujarnya.