Temukan Situs Candi di Kebun Warga

Diduga Lebih Tua dari Dieng

809

”Biasanya bangunan candi dekat dengan mata air maupun gunung. Namun saat ini belum ditemukan bukti fisik yang merujuk ke dalam hal itu. Kondisi sekitar bangunan berupa hutan dan kebun warga. Juga belum ditemukan bekas mata air,” ujar Agustijanto kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (27/9) kemarin.

Saat koran ini mendatangi lokasi, gundukan tanah tebal masih menyelimuti bagian candi. Proses ekskavasi hanya dilakukan di beberapa titik saja. Hal itu dikarenakan lamanya proses ekskavasi hanya sampai Selasa (29/9). Selain gundukan tanah, proses penggalian juga terhalang oleh beberapa pepohonan yang sudah menutupi gundukan tersebut.

Situs candi ini sebenarnya sudah diketahui sejak lama. Bahkan sudah tercatat dalam daftar inventaris benda purbakala di Semarang pada tahun 1976. Hanya saja, selama 39 tahun ini, belum pernah dilakukan ekskavasi lebih lanjut. Dari daftar inventaris disebutkan, penemuan batuan yang menyerupai bagian candi, arca ganesha, arca nandi, kepala durga, umpak atau alas tiang serta pecahan arca.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui awal sejarah di pantai utara Pulau Jawa tentang masuknya Hindu dan Buddha. ”Hipotesa kami, Hindu masuk melalui pantai utara di Semarang, Kendal dan Batang. Sebelum akhirnya menyebar ke wilayah Kedu, Jogjakarta dan Jawa Timur yang menjadi pusat Kerajaan Mataram Kuno,” tutur Agustijanto.

Jika hipotesa ini benar, bisa jadi candi di Duduhan ini lebih tua dari Candi Dieng yang dibangun pada akhir abad ke-8 atau awal abad ke-9. ”Tapi kami belum bisa memperkirakan usianya. Kami belum menemukan sisa arang yang bisa diteliti atau prasasti yang menunjukkan tahun pembangunan. Amannya ya kami perkirakan candi ini dibangun antara abad ke-8 hingga abad ke-10,” jelasnya.

Candi ini dibangun menggunakan batu bata. Ukuran batu bata cukup besar jika dibandingkan batu bata yang lazim digunakan saat ini. Batu bata utuh yang berhasil digali rata-rata berukuran sekitar 34 x 20 x 8 sentimeter. Ada juga batu bata yang lebih kecil dan menunjukkan ornamen tertentu. Area yang digali berukuran sekitar 10 x 10 meter. ”Batu bata yang berornamen itu biasanya berada di bagian badan candi. Kalau bagian atapnya belum diketahui seperti apa, karena belum ada tanda-tanda temuannya,” imbuhnya.