Jokowi Kritik Judul Berita Sensasional

Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB)

576

Jokowi mengatakan, hingga kini masih ada pemberitaan media yang justru membangun pengaruh yang cenderung membuat pesimistis serta terjebak pada berita yang sensasional. “Apalagi, ditambahi dengan komentar para pengamat sehingga makin ramai,”katanya. Terkait hal itu, Presiden Jokowi pun memberikan judul-judul berita media yang membuat pesimis sehingga berpengaruh dalam menganggu pembangunan bangsa. “Bayangkan saja, ada judul berita misalnya saja, Indonesia akan hancur. Bayangkan ini tidak yang pertama,” katanya.

Ada juga, kata dia, judul berita yang membuat pesimis terkait dengan target pertumbuhan ekonomi. Diantaranya, pemerintah gagal, aksi terror tidak akan habis sampai kiamat, kabut asap tidak teratasi Riau terancam merdeka, kemudian judul berita Indonesia akan bangkrut dan hancur, rupiah tembus Rp 15 ribu Jokowi-Jk akan ambyar. “Kalau judul-judul seperti itu diteruskan, maka yang muncul adalah pesimisme dan distrust (ketidakpercayaan). Etos kerja tidak terbangun dengan baik dan tidak produktif. Padahal, itu kadang hanya asumsi. Perlu diingat bahwa era kompetisi yang dibutuhkan adalah kepercayaan. Kepercayaan yang bisa membangun adalah media massa,”katanya mengkritisi pemberitaan media massa.

Jokowi juga menyoroti informasi yang disampaikan lewat televisi. Dia mengatakan, televisi dinilai kurang menampilkan lagu-lagu kebangsaan, seperti garuda pancasila, lagu Indonesia raya,padamu negeri, dan lainnya. Sebaliknya, televisi lebih bertumpu pada rating karena kompetisi media. Karena itu, Jokowi berharap televisi dapat menampilkan lagu kebangsaan tersebut sehingga semua elemen masyarakat dapat hafal lagi lagu lagu kebangsaan itu. “Mestinya, sebagian kecil lagu itu dapat disampaikan ke masyarakat,” kata mantan Wali Kota Solo itu.

Jokowi pun menambahkan, fenomena lain adalah model pemberitaan media online yang dinilai kurang akurat. Menurutnya, kepatuhan pada etika dalam praktik jurnalisme masih banyak sekali yang diabaikan lantaran berita ingin cepat disampaikan ke masyarakat. “Karena ingin cepat, berita akhirnya tidak akurat dan tidak berimbang, campur aduk antara fakta dan opini. Bahkan, kadang-kadang cenderung menghakimi seseorang. Menurut saya ini bahaya sekali. Kalau dulu pers ditekan pemerintah, sekarang ini pemerintah justru ditekan pers. Lalu, siapa yang akan mengontrol pers?. Ya, industri pers itu sendiri karena ditekan persaingan dilingkungan sendiri. Karena itu, saya berharap, pers dapat dipercaya sehingga tetap menjadi pilar bagi bangsa ini,”katanya.