Cahaya Pasca Gerhana Bisa Bikin Rabun

484
PERSIAPAN : Pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan Syariah Program Studi (HMPS) Hukum Keluarga (HK) STAIN Pekalongan saat mengeset alat untuk memantau Gerhana Matahari, di kampusnya. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
PERSIAPAN : Pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan Syariah Program Studi (HMPS) Hukum Keluarga (HK) STAIN Pekalongan saat mengeset alat untuk memantau Gerhana Matahari, di kampusnya. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
PERSIAPAN : Pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan Syariah Program Studi (HMPS) Hukum Keluarga (HK) STAIN Pekalongan saat mengeset alat untuk memantau Gerhana Matahari, di kampusnya. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
PERSIAPAN : Pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan Syariah Program Studi (HMPS) Hukum Keluarga (HK) STAIN Pekalongan saat mengeset alat untuk memantau Gerhana Matahari, di kampusnya. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)

PEKALONGAN – Tim observasi Gerhana Matahari dari Himpunan Mahasiswa Jurusan Syariah Program Studi (HMPS) Hukum Keluarga (HK) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pekalongan mengingatkan masyarakat agar berhati-hati saat melihat gerhana matahari hari ini, Rabu (9/3).

Salah satu penangungjawab tim obervasi, Abdul Rozak menjelaskan, cahaya matahari pertama setelah tertutup bulan sangat berbahaya sekali. “Jika masyarakat melihat langsung cahaya setelah tertutup bulan, maka berpotensi kena rabun mata,” ucapnya saat memimpin persiapan obervasi gerhana matahari, di lantai 3 Gedung B STAIN Pekalongan.

Untuk itu disarankan menggunakan alat bantu penglihatan maupun teropong khusus. Jangan langsung melihat dengan mata telanjang. Dilanjutkannya, pada fenomena langka ini kota Pekalongan hanya terlihat sebagian. Dengan magnitudo gerhana (perbandingan antara diameter matahari yang terkena gerhana dan diameter matahari secara keseluruhan saat puncak gerhana terjadi) sekitar 0,879. Atau hanya 87 persen gerhana yang terjadi.