Transportasi Online vs Konvensional

871

suharyanto-1

Oleh: Ir Suhariyanto
Lagi-lagi, sopir taksi berunjuk rasa, Selasa (23/3) kemarin. Kali ini, ribuan sopir taksi konvensional yang beroperasi di Kota Jakarta, benar-benar murka. Mereka menuntut pemerintah, tak mengizinkan beroperasinya layanan transportasi berbasis aplikasi online: Uber dan GrabCar. Juga layanan transportasi sejenis seperti GoJek dan GrabBike.

Demonstrasi kemarin, sebenarnya sudah bisa ditebak; bakal terjadi dan berulang. Penyebabnya, pemerintah tak bersikap tegas. Permintaan Menhub Ignatius Jonan agar Menkominfo Rudiantoro memblokir aplikasi online, tak kunjung dilakukan. Pun, sikap penguasa negeri ini yang condong menoleransi keberadaan jasa transportasi berbasis online. Pemerintah terkesan terburu-buru memberikan lampu hijau kepada transportasi berbasis online.

Ada dua persoalan yang harus dicermati. Pertama, soal sistem. Kedua, produknya. Aplikasi berbasis online adalah sebuah sistem. Sistem yang berbasis teknologi komunikasi. Sedangkan taksinya sendiri, merupakan sebuah alat transportasi. Dua hal ini harus dibedakan.

Masyarakat yang dimudahkan dengan transportasi berbasis online, sebenarnya sedang dimudahkan oleh sebuah sistem. Sistem komunikasi. Tapi, produknya tetap sama: angkutan. Ironisnya, angkutan yang digunakan adalah plat hitam. Bukan angkutan umum. Sudah jelas bahwa apakah plat hitam tidak diperbolehkan sebagai transportasi umum. Sebaliknya, produk resmi angkutan umum ya yang berplat kuning. Bisa taksi, bus, dan lain sebagainya. Di sinilah masalah muncul. Operator resmi taksi jelas protes keras. Ribuan sopir taksi pun murka.