Tulang Tubuh Siyono Patah-Patah

Tim Forensik Temukan Tanda Kekerasan Benda Tumpul

547

Tulang bagian tubuh mana yang patah? Gatot belum merincinya. Tim dokter forensik juga tidak menemukan luka tembak di tubuh Siyono. Sedangkan guna mengetahui kepastian penyebab kematian Siyono, tim forensik mengambil sampel kulit dan otot jenazah untuk diperiksa di laboratorium.

Lebih lanjut Gatot menjelaskan, pembuktian laboratorium secara patologi anatomi guna membuktikan apakah terjadi kekerasan ketika Siyono masih hidup.

“Untuk kepastian kami rumuskan setelah hasil pemeriksaan laboratorium selesai. Kalau pemeriksaan di laboratorium minimal satu pekan sampai 10 hari, setelah itu baru dirumuskan,” ujar Gatot.

Dokter forensik Polda Jawa Tengah Sumy Hastry Purwanti membenarkan adanya bekas kekerasan di bagian tubuh jasad Siyono. Tapi kepastiannya masih menunggu hasil laboratorium.
“Itu akan membuktikan apakah kekerasan atau luka yang ditemukan itu didapat sebelum meninggal atau setelah meninggal,” ungkap Sumy.

Kenapa disebut otopsi indenpenden tapi masih melibatkan pihak kepolisian? Tim koordinator Sub Komisi Pantauan dan Investigasi Komnas HAM Siane Indriani menuturkan, sebelum otopsi independen dilakukan, Kapolres Klaten AKBP Faizal sempat menanyakan apakah otopsi sudah sesuai prosedur hukum positif. Artinya harus ada izin dari pihak kepolisian.

“Tadi (kemarin, Red) sempat ada perdebatan dengan kepolisian. Kapolda (Irjen Nur Ali, Red) juga sempat menelepon Pak Busyro (Busyro Muqoddas Ketua Bidang Hukum dan HAM PP Muhammadiyah, Red) meminta otopsi ditunda sehari lagi. Alasannya apa, saya kurang tahu,” beber Siane.

Pihak Komnas HAM, kata Siane, kemudian mengutip Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang menyebutkan bahwa Komnas HAM memiliki kewenangan melakukan penyelidikan terkait adanya kecurigaan ada tidaknya pelanggaran HAM termasuk pada kasus kematian Siyono.

“Akhirnya dipilih jalan tengah, ada satu tim dokter yang ikut menyaksikan proses otopsi,” terang dia.