Batik Printing Ancam Batik Tulis

430
LEBIH MAHAL: Para perajin batik tulis Semarangan tengah menyelasikan beberapa lembar batik. Dibutuhkan kreatifitas tinggi agar batik tulis mampu bersaing dengan batik printing. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LEBIH MAHAL: Para perajin batik tulis Semarangan tengah menyelasikan beberapa lembar batik. Dibutuhkan kreatifitas tinggi agar batik tulis mampu bersaing dengan batik printing. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LEBIH MAHAL: Para perajin batik tulis Semarangan tengah menyelasikan beberapa lembar batik. Dibutuhkan kreatifitas tinggi agar batik tulis mampu bersaing dengan batik printing. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LEBIH MAHAL: Para perajin batik tulis Semarangan tengah menyelasikan beberapa lembar batik. Dibutuhkan kreatifitas tinggi agar batik tulis mampu bersaing dengan batik printing. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Maraknya peredaran batik printing di Jawa Tengah cukup mengkhawatirkan sejumlah pihak, baik pengusaha batik dan pengamat UMKM. Keberadaan batik printing patut diwaspadai karena bisa mengancam market perajin batik tulis.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Tengah Siti Atikoh mengakui, bahwa maraknya peredaran batik printing yang cukup pesat bisa menjadi ancaman pemasaran batik tulis. Namun demikian, peredaran batik printing tidak dapat dihentikan begitu saja. “Yang tepat, masyarakat harus diberikan edukasi tentang batik, agar masyarakat memilih batik tulis,” kata istri orang nomor satu di Jawa Tengah ini, kemarin.

Pihaknya mengajak para perajin batik tulis di Jateng agar mampu memenangkan persaingan market dengan kompetitor. Selain menggali kreativitas, strategi lain yang perlu dilakukan adalah mengikuti pameran-pameran batik tulis, baik di tingkat regoinal, nasional, maupun internasional. Sehingga produk batik tulis asal Jawa Tengah mampu dikenal di lingkup yang lebih luas. “Tidak hanya motif batik, kreativitas merancang produk jadi pun sangat penting. Misalnya, dalam bentuk busana dengan desain menarik, sepatu, tas, maupun produk lain dari limbah batik. Kreativitas juga mesti ditumbuhkan untuk produk kerajinan lainnya,” cetusnya.

Pihaknya mengaku juga telah memfasilitasi pengurusan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Hal itu sebagai upaya memberikan perlindungan kepada para pengrajin batik. Dua tahun terakhir, sedikitnya terdapat sebanyak 190 merek batik di Jawa Tengah mendapatkan sertifikat HAKI. Selain itu ada sebanyak tujuh desain yang memeroleh hak desain. “Serifikat itu berlaku secara internasional, sehingga produk tersebut bisa dipasarkan di mancanegara,” katanya.

Sementara itu, pemerhati pengembangan UKM Prieyo Pratomo mengatakan, perlu memiliki gerai pameran sebagai promosi produk unggulan di Jawa Tengah. Ia mengusulkan agar gerai pameran tersebut ditempatkan di tempat umum yang banyak dikunjungi masyarakat. Misalnya di pusat perbelanjaan. “Sehingga produk unggulan tersebut bisa dillihat oleh masyarakat, pelancong, baik pelaku dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu, harus melibatkan tenaga profesional yang bertugas menjaga stand. Jangan diambilkan PNS,” katanya. (amu/smu)