Perajin Bunga Banjir Pesanan

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

WONOSOBO – Memasuki bulan wisuda sekolah para perajin karangan bunga kebanjiran pesanan. Para perajin bisa menjual 180 karangan bunga dan 120 poket bunga per bulan. Pada bulan-bulan biasa, hanya mampu menjual separonya saja.

Pemilik usaha pembuatan karangan bunga yang berlokasi di Jalan Mayjend Bambang Sugeng, Sidojoyo, Wonosobo, Panto, 30, menyebut, lonjakan permintaan kali ini mencapai 2 kali lipat dibanding bulan bulan biasa.

Penyebabnya, selain bertepatan dengan masa wisuda sekolah, juga karena mendekati bulan puasa yang pada umumnya, masyarakat banyak orang melangsungkan acara pernikahan. “Sehari kita bisa jual karangan bunga 4 – 5 karangan. Kalau bunga poket sampai 3, dalam sehari,” katanya, Minggu (14/5).

Pada bulan biasa peminat karangan bunga terbatas untuk ucapan duka cita, peresmian kantor (instansi), ultah kantor, ucapan sukses pegawai berprestasi. Dihitung rata-rata dalam sehari ia mampu menjual 2-3 karangan bunga. Tidak ada patokan harga yang pasti, harga menyesuaikan permintaan pemesan.

“Yang paling laku, karangan bunga dengan harga kisaran Rp 350 ribu sampai Rp 400 ribu,” kata laki-laki yang menggeluti bisnis merangkai bunga sejak 2010 itu.

Di Wonosobo sendiri, sudah ada 5 perajin karangan bunga selain dirinya. Bahan yang digunakan bervariasi. Kertas dan bunga asli. Untuk bunga asli rata-rata mereka mengambil dari petani lokal, sementara untuk bahan baku bunga kertas masih mengambil dari Bandungan, Semarang.

“Wonosobo malah belum ada yang bikin bunga kertas. Kita ngambilnya ke Bandungan dengan harga per keranjang Rp 150.000 harga di lokasi,” jelasnya.

Dalam sebulan, rata-rata satu unit usaha menghabiskan bunga kertas sebanyak 5-6 keranjang. Adapun untuk untuk kebutuhan bunga asli, ia mengaku sudah tidak sesulit dulu. Sudah banyak petani yang membudidayakan bunga.

“Yang biasa kita pakai antara lain bunga krisan, mawar, garberra, pikok, gladiol, dan amarilis (berbentuk mirip trompet). Semua ada di Wonosobo. Yang belum, malah bunga kertas. Padahal jika dikalkulasi, Wonosobo butuh bunga kertas lumayan banyak,” ujarnya. (cr2/lis)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -