14 Taruna Senior Akpol Ditahan

Personel Pengawas Akpol Ditambah

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

TURUN LANGSUNG: Wakapolri Komjen Pol Syafruddin memberikan keterangan pers. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TURUN LANGSUNG: Wakapolri Komjen Pol Syafruddin memberikan keterangan pers. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG Setelah menjalani pemeriksaan intensif, 14 taruna tingkat III Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang yang telah ditetapkan sebagai tersangka akhirnya ditahan di Mapolda Jateng. Mereka adalah RLW, EA, GCM, AH, CAE, MB, JED, AKU, GJN, RAP, RK, IZ, PDS dan CAS. CAS diketahui sebagai tersangka utama penganiayaan Brigadir Dua Taruna (Brigdatar) Muhammad Adam hingga tewas.

“Sudah ditangani Kapolda Jawa Tengah. (Para tersangka) sudah ditahan. Nanti Pak Kapolda yang menjelaskan,” ungkap Wakapolri Komjen Pol Syafruddin usai memberikan pembinaan dan pengarahan taruna di Ruang Pertemuan Cendrawasih, Gedung Cendekia, Kompleks Akpol Semarang, Senin (22/5).

Syafruddin mengaku telah memberikan arahan kepada Gubernur Akpol Semarang Irjen Pol Anas Yusuf untuk melakukan revitalisasi dan perubahan kultur. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi terulangnya kembali insiden kekerasan yang berada didalam lingkup pendidikan Akpol. “Gubernur (Akpol) akan melakukan pembenahan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Pembinaan dan lain sebagainya dievaluasi,” katanya.

Menanggapi insiden penganiayaan taruna hingga tewas yang dipicu adanya kultur militarisasi, Syafruddin menegaskan di pendidikan taruna Akpol tidak adanya lagi militarisasi. Selain itu juga akan menghentikan adanya korp-korp daerah terhadap semua taruna Akpol. “Di sini (Akpol) sudah tidak ada lagi kultur militarisasi. Korp daerah akan dihentikan. Yang ada korp Indonesia,” tegasnya.

Antisipasi lainnya, Syafruddin akan melakukan pengawasan ketat terhadap sistem pendidikan maupun pembinaan terhadap taruna di Akpol. Untuk itu, Mabes Polri akan menambah jumlah personel pengawas dan pengasuh, membenahi berbagai sarana-prasarana, termasuk menambah anggaran sebagai pendukung pengawasan tersebut.

“Kita akan menambah personel dua kali lipat untuk mengawasi para taruna. Kami benahi sarana prasarana, anggaran dan struktur jabatannya. Akan kita tambah semua, dilebarkan,” terangnya.

Untuk melakukan perubahan besar-besaran tersebut, pihaknya akan menyusun aturan baru yang akan dituangkan dalam Peraturan Kapolri (Perkap) yang baru. “Kita akan bikin Perkapnya yang baru,” ucapnya.

Apakah para tersangka akan dikeluarkan dari pendidikan Akpol? Syafruddin enggan menjawab. Pihaknya hanya menjelaskan akan melihat perkembangan penyidikan yang dilakukan oleh aparat Polda Jawa Tengah. “Nanti lihat perkembangan penyelidikan dan penyidikan. Itu akan simultan dengan langkah-langkah yang dilakukan oleh Gubernur Akpol,” tegasnya.

Terkait sanksi terhadap pengawas yang berdinas, Syafruddin mengatakan sanksi ataupun reward akan diberikan kepada siapapun yang berhak menerimanya. Hal tersebut sudah merupakan kultur ataupun Standart Operasional Prosedur (SOP) yang dilakukan Akpol. “Akan diberikan punishment apabila penyelidikan nanti ternyata lalai. Ya, kode etik. Lihat derajat kesalahanya juga,” imbuhnya.

Gubernur Akpol Irjen Pol Anas Yusuf mengaku sudah maksimal mengawasi para taruna Akpol yang mengenyam lembaga pendidikan di bawah naungan Mabes Polri ini. Salah satu caranya dengan memasang ratusan CCTV. “Kita sudah laksanakan maksimal (dengan memasang) CCTV. (Sebanyak) 126 lebih. Tapi, di kamar kan nggak mungkin, karena melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) juga. Kan ada taruni di sana. Jadi, kita sudah ada CCTV,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga sudah menyiagakan beberapa pengawas dan pengasuh perwira di setiap sudut Kompleks Akpol. “Kemudian ada juga Perwira Pengawas, Pamen pangkatnya Kombes. Ada Kadental Danyon lah istilahnya di tentara, ya di TNI Danyon itu piket juga. Kasatar juga piket juga. Taruna ikut piket juga,” terangnya.

Anas mengakui pengawas dan pengasuh kecolongan, sehingga peristiwa penganiayaan terjadi dan menewaskan Brigdatar Muhammad Adam. Pihaknya akan mengevaluasi dan melakukan kajian ulang kegiatan dan jadwal di Akpol. “Tapi seperti yang disampaikan Pak Kapolda kejadian tengah malam dini hari. Jam 11 malam (23.00), seperti perintah saya jam 10.30 malam (22.30) itu sudah harus tidur. Saya beri kesempatan sampai jam 11 malam (23.00) bila memang ingin belajar. Itu sudah kita lakukan. Jadi, mungkin ada kelengahan dan sebagainya akan kita kaji,” ujarnya.

Anas menambahkan, sebagai manusia pengawas dan pengasuh taruna juga mempunyai keterbatasan. “Sudah jam 00.00, ya jam setengah 1 (malam) itu pasti sudah lelah dan sebagainya. Walaupun piket, pasti riyip-riyip di ruangan piket saya maklumi, tapi itu sudah di luar kemampuan kita,” ucapnya.

Seusai apel malam, para taruna harus kembali ke barak masing-masing untuk beristirahat. Namun mereka mencuri-curi waktu menggelar kegiatan koordinator daerah tanpa sepengetahuan pengasuh dan pengawas taruna. “Kemudian ya mereka kan ngumpet-ngumpet pasti itu. Tadi yang piket, kita akan telusuri kenapa tidak melihat dan pasti punya keterbatasan,” ungkapnya.

Informasi yang beredar kemarin, sebelum ditahan para tersangka telah dijemput penyidik Subdit III Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jateng ke Mapolda Jateng Minggu (21/5) siang. Mereka langsung dilakukan proses Berita Acara Pemeriksaan (BAP) diperiksa sebagai tersangka. Bahkan, pemeriksaan sempat dihentikan untuk dilakukan cek kesehatan dan dilanjutkan Senin (22/5) pagi.

“Semalam (Minggu) pemeriksaan sampai pukul 23.00. Kemudian dilanjutkan Senin pagi. Iya, 14 senior tersebut kuat ditingkatkan menjadi tersangka. Maka diterbitkan Surat Perintah Penahanan (SPP),” ungkap Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Djarod Padakova.

Djarod menjelaskan, sekarang ini 14 tersangka telah ditahan di sel Satuan Tahanan dan Barang Bukti (Sat Tahti) Mapolda Jateng. Kasus mereka juga akan terus diproses sesuai aturan dan hukum yang berlaku. Sembari melakukan penahanan, penyidik juga menyelesaikan berkas BAP para tersangka. “Para tersangka ditahan sampai 20 hari ke depan, dan bisa diperpanjang. Mereka juga didampingi kuasa hukum masing-masing,” katanya. (mha/aro)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -