Harumkan Batik Magelang ke Kancah Internasional

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

MAGELANG – Agus Nur Asikin, seorang perajin asal Kampung Ringin Anom RT 01 RW 05, Kelurahan Kramat Selatan, Kota Magelang mampu memberikan energi positif bagi lingkungan sekitarnya. Terutama bagi ibu-ibu rumah tangga yang tak memiliki pekerjaan tetap.

Setiap berangkat hingga pulang dari mengurus peternakan ayam miliknya, ia selalu melihat ibu-ibu sekitar rumah hanya ngobrol dan menonton televisi. Tak ada kegiatan produktif yang dikerjakan. Ia amati, aktivitas itu berulang setiap harinya.

“Kemudian saya ngobrol dengan ibu-ibu itu, akhirnya mereka minta saya untuk memberi pekerjaan, namun tetap di dalam kampung, agar tetap bisa menjalani kodratnya sebagai ibu rumah tangga,” kata Agus.

Kebetulan, batik Indonesia sedang ramai diperbincangkan, karena diakui oleh UNESCO. Agus membaca peluang bisnis di sana. Mendapat izin sang istri, dirinya nekat menggunakan uang tabungan sebesar Rp 30 juta untuk mendatangkan perajin dari Ambarawa, Solo, Jogjakarta dan Pekalongan.

“Di rumah ada kegiatan pelatihan keterampilan membatik untuk ibu-ibu, dan sisa uangnya saya gunakan membeli bahan serta alat-alat membatik,” akunya.

Berjalan satu tahun, sudah menghasilkan banyak karya, Agus justru ingin menyudahi bisnisnya pada 2010. “Modal yang saya keluarkan sudah cukup banyak, tapi batik-batik itu tidak ada yang laku sama sekali,” kenangnya.

Namun, para karyawannya memberikan motivasi pada Agus agar tak putus asa. Dirinya pun kembali semangat. Dengan membawa brand nAnom – Batiknya Magelang, ia mendapat kesempatan dari Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Magelang –nama SKPD pada saat itu–mengikuti pameran di Jakarta. Selama pameran, semua batik terjual dan mengantongi omzet Rp 80 juta. “Saya gunakan untuk mengembangkan usaha saya.”

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -