Banyak yang Masuk Angin, Pondok Siapkan Dokter

Melihat Aktivitas Santri Sepuh di Masjid Agung Payaman

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Setiap Ramadan tiba, Pondok Sepuh Masjid Payaman selalu dikunjungi orang-orang tua dari berbagai daerah. Mereka ingin beribadah dengan khusyuk hingga rela meninggalkan keluarga di rumah. Seperti apa?

Agus Hadianto, Magelang

USIA renta bukanlah sebuah halangan untuk beraktivitas dan beribadah. Seperti yang dilakukan para kakek dan nenek di Pondok Sepuh Masjid Agung Payaman, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, selama Ramadan. Tak banyak yang diinginkan para kakek nenek ini, kecuali berkonsentrasi dan mengisi hari dengan kegiatan ibadah.

Bagi kakek nenek yang hanya memiliki bekal minim, mereka rela berdesak-desakan tidur sehari-hari di lantai masjid yang dingin. Sedang yang mempunyai bekal berlebih, mampu membayar pondok kamar nan mungil, cukup dengan dipan sederhana.

Seperti Endang, 73, yang datang dari Kota Salatiga. Dengan kalimat yang tak begitu lancar mengalir, nenek lima cucu dan satu buyut ini bercerita bahwa ia sangat senang berada di lingkungan Pondok Sepuh. “Saya sudah hampir 7 tahun setiap Ramadan di sini, berkumpul dengan teman-teman sebaya rasanya hidup sudah lengkap. Ramadan ini saya isi dengan ibadah salat, mengaji, dan mendengarkan khotbah. Saya sudah bersiap untuk khusnul khatimah,” ujar Endang.

Untuk keperluan makan sehari-hari, Endang bersama rekan-rekan sepondok memasak. Menunya sederhana. “Yah namanya juga sudah sepuh, jadi masak ya sesuai kemampuan dan masak yang mudah.”

Tarman, 71, warga Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang mengatakan hal yang sama. Ia merasa damai dan senang bisa menjemput berkah Ramadan di Pondok Sepuh bersama teman sebayanya. “Saya sudah 4 tahun selama Ramadan di sini. Cuma tahun kemarin tidak ikut karena kondisi kesehatan tidak memungkinkan. Saya biasanya hingga 20 hari Ramadan di sini” ungkap Tarman.

Kakek 4 cucu ini datang ke Pondok Sepuh bersama 35 kawan sebaya. Mereka ingin beribadah dengan tenang selama Ramadan. “Bulan puasa lebih khusyuk ibadahnya, senang juga ada teman-teman seusia juga,” imbuh Tarman.

Pengurus Pondok Sepuh Masjid Agung Payaman KH Muhammad Tybyan menjelaskan, pada Ramadan tahun ini ada 315 santri lanjut usia yang datang ke Pondok Sepuh. Jumlah ini berkurang dibanding tahun lalu yang bisa mencapai sekitar 400 orang.

“Karena sekarang sedang musim pancaroba, banyak santri yang sepuh agak masuk angin. Kami persiapkan dokter dekat daerah sini,” ungkap Tybyan.

Generasi keempat pendiri Pondok Pesantren Masjid Agung Payaman ini ini menjelaskan, santri berasal dari berbagai daerah. Contohnya 3 santri dari Kalimantan dan 1 orang dari Sumatera. Selain itu ada pula yang datang dari Bandung, Jakarta serta kota-kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Di luar Ramadan, katanya, santri yang bermukim di pondok sekitar 50 hingga 60 orang. Namun, saat Ramadan, pondok membuka program khusus dan peserta membeludak. Karena tempatnya terbatas maka mereka tidur di serambi masjid dan rumah penduduk sekitar pondok. “Untuk makan, para santri makan seadanya, bisa membeli atau memasak sendiri.”

Program Pondok Sepuh Masjid Agung Payaman saat Ramadan sudah dibuka sejak tahun 1980an. Kegiatan yang dilakukan para santri masih sama seperti dulu, yaitu mengikuti pengajian sebelum salat duhur, sebelum dan sesudah salat asar. Selain itu, tambah Tybyan, sebelum salat duhur diisi dengan pengajian tentang fikih. “Sebelum asar pengajian soal tasawuf, dan setelah asar diisi cerita para nabi atau cerita Islam. Di luar kegiatan tersebut, para santri mengaji Alquran. Apabila ada santri yang belum lancar bacaannya, ada guru pembimbing,” beber.

Tybyan.

Para santri, menurut Tybyan, sudah ikhlas dan proses menuju khusnul khatimah. “Jadi memang semua santri sudah khusnul khatimah. Sudah ridho. Rata-rata mereka sudah mempersiapkan diri dengan beribadah secara khusyuk.” (*/ton)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -