Tawarkan Gamis Antimainstream

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

SEMARANG – Busana muslim makin diminati saat Ramadan dan menjelang Lebaran nanti. Desainer asal Semarang, Liza Supriyadi coba menghadirkan koleksi busana muslim antimainstream miliknya untuk mewarnai kancah fashion di Kota Atlas.

Desainer jebolan sekolah mode Susan Budihardjo ini sengaja tidak merancang busana muslim bergaya syari’ seperti yang sedang ngetren belakangan ini. Dia justru memilih gaya busana simpel yang lebih cocok digunakan bagi mereka yang ogah ribet soal dandanan hijab.

Salah satu koleksinya berupa busana terusan bernuansa kuning dengan rompi hitam bercorak kupu-kupu warna-warni. Busana muslim itu tampak elegan dan anggun dengan kombinas warna kontras.

Tak lupa, manset tinggi dan kerah model shanghai selalu disematkan sebagai ciri khas desain miliknya. Koleksi tersebut diberi mana ‘Multicolour Revolution’. “Untuk menyambut Ramadan dan Lebaran tahun ini, saya sudah menyiapkan lima desain baru,” ucapnya di sela soft opening Gallery Liza Supriyadi di Ruko Taman Niaga, Kompleks Bukir Semarang Baru (BSB), Mijen Semarang.

Liza menerangkan, bahan-bahan yang digunakan merupakan produk lokal. Seperti kain jaquard, kain satin, payet, dan lain sebagainya. Secara desain, sebenarnya tidak jauh beda dari model baju yang telah diluncurkan. Hanya saja, model baru ini tampak simpel. “Makanya desian baju muslim ini dengna model cutting minim. Namun tetap terlihat anggun,” tegasnya.

Mengenai harga, semua koleksi Liza dibanderol antara Rp 1,5 juta-Rp 10 juta. Dia sengaja menyediakan busana-busana ready to wear. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan, dia menerima pengubahan ukuran, sesuai permintaan kostumer. Untuk setiap model busana, dia sengaja membuatnya terbatas. Maksimal hanya 8 unit saja. “Meski laris manis, saya tetap tidak memassalkannya. Biar ekslusif saja,” imbuhnya.

Diakuinya, persaingan dan tantangan di dunia “fashion” kian ketat, apalagi dengan desainer-desainer yang ada di Jakarta, tetapi dirinya mengaku mantap tanpa harus ikut-ikutan tren. “Memang untuk cari bahan baju dan sebagainya, lebih mudah di Jakarta. Namun, saya nyaman di Semarang,” kata Liza yang Juli mendatang diundang perhelatan “Ngawi Batik Fashion Show” itu. (amh/smu)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -