Tinggi, Penderita Sakit Jiwa di Selomerto

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

WONOSOBO—Penyandang sakit jiwa di Kecamatan Selomerto tergolong tinggi. Terbukti, saat dilakukan pendataan keluarga sehat oleh Puskesmas Selomerto, petugas menemukan sedikitnya 5 penderita sakit jiwa dengan kondisi memprihatinkan.

Terdatanya 5 penyandang itu, menambah daftar orang sakit jiwa di wilayah Selomerto yang sebelumnya telah terdata 60 orang. Pendataan dilakukan kepada 30 warga di 16 desa di wilayah Selomerto. Pendataan dilakukan sesuai seruan Permenkes Nomor 39 Tahun 2016.

“Bedanya, kalau Puskesmas kecamatan lain pendataan dilakukan hanya satu dua desa, di sini 16 desa. Dari data yang sudah direkap, diketahui ada 5 warga yang mengalami gangguan kejiwaan,” ucap Numan Kumoro, staf Puskesmas Selomerto mewakili pimpinannya yang sedang rapat, Rabu (31/5) kemarin.

Pendataan diperkirakan rampung pada Juni 2017. Hasil pendataan, akan diunggah di Pusdatin Kemenkes. Harapannya, dalam waktu dekat, riwayat atau status kesehatan masyarakat terdata dengan baik.

Khusus sakit jiwa, Numan membeber, masyarakat dengan gangguan kejiwaan, umumnya tidak mendapatkan perlakuan semestinya. Baik dari sisi pengobatan maupun perawatan.

Yang memprihatinkan, justru terkesan ada pembiaran dari pihak keluarga maupun masyarakat. “Masih sedikit yang tahu bahwa gangguan mental atau kejiwaan itu sebetulnya bisa disembuhkan.”

Mengatasi hal itu, Puskesmas tak mampu berjalan sendiri. Butuh kerjasama lintas sektor dan dukungan lintas program. Selain itu, penting pula kesadaran dan pemahaman masyarakat agar tak memperparah kondisi psikis penderita.

“Stigma negatif masih melekat. Kesadaran untuk mengobatinya masih rendah. Yang ada seperti yang sudah-sudah, dibiarkan kalau tidak membahayakan. Ketika membahayakan dikunci atau dikerangkeng.” (cr2/isk)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -