Ajarkan Memasak dengan Cinta

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Nanan Wiryono, Owner WL Home Kitchen Semarang. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)

ENERJIK, cantik dan cekatan. Demikian yang bisa mengambarkan pendiri sekaligus owner sekolah masak WL Home Kitchen Semarang, Sarah Siti Kawiryan Wiryono. Bagi perempuan yang akrab disapa Nanan Wiryono ini, aktivitasnya dalam mengelola sekolah masak adalah bentuk pelayanan kepada Tuhan. Sebab, ia tak sekadar mengajarkan memasak, Nanan yang sangat mencintai anak-anak ini ingin mengajarkan kepada anak untuk bisa hidup mandiri sejak kecil, serta tidak bergantung pada orang lain. Melalui sekolah masaknya ini, ia ingin mengajarkan kreativitas anak melalui pengembangan soft skill.
”Ketika mereka diberikan oleh orangtuanya uang Rp 100 juta misalnya, mereka tidak hanya bisa menghabiskannya. Dengan kreativitas, mereka bisa mengembangkan uang tersebut,” kata ibu dari Nasya, Noel, Clara, dan Sean ini saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di sela menerima Anugerah Jawa Pos Radar Kedu-Radar Semarang 2017 untuk kategori Owner School for Developing Soft Skills & Life Skill for Future Empowerment of Children di Semanggi Ballrom Artos Hotel and Convention Magelang, Selasa (23/5) lalu .
Adik kandung artis sinetron Ninok Wiryono ini menjelaskan, sejak berdiri 2003, sekolah memasak yang dikelolanya sudah meluluskan sekitar 400-an siswa. Bahkan beberapa di antaranya sudah menjadi master chef terkenal. Salah satunya Petrick James Rafferty Milligan atau akrab disapa Pedi.
“Siswa di sini mulai usia 5-19 tahun. Banyak juga kalangan ibu rumah tangga. Kalau menu yang diajarkan mulai Indonesia, Asia, dan Barat. Siswa juga diajarkan mengenal bumbu, mengenal sayuran, dan sebagainya,” ungkap alumnus Magister Manajemen (MM) Undip dan S1 di Sydney, Australia ini.
Nama sekolah WL Home Kitchen sendiri memiliki tiga arti khusus yang cukup unik. WL bisa berarti With Love, yakni sekolah masak yang dikelolanya dibangun dengan rasa cinta. Selain itu, ia juga ingin mengajarkan bahwa memasak itu harus penuh dengan rasa cinta, sehingga hasilnya akan terasa nikmat.
“WL juga berarti Wiryono dan Lutuihamallo, nama ayah dan marga suami saya. Juga bisa berarti Women and Ladies. Karena sekolah memasak ini bisa untuk pria dan wanita,” jelasnya.
MelaluiWL Home Kitchen, Nanan juga ingin mengajarkan bahwa makanan dapat digunakan untuk menunjukkan rasa kasih. Ia ingin menunjukkan bahwa makanan dapat menyatukan dan menumbuhkan rasa cinta dalam keluarga.
”Ketika di dapur, otomatis bisa menyatukan keluarga. Juga ketika masakan disajikan untuk keluarga, dan dinikmati bersama,” ujar istri dari Ketua Kongres Advokat Indonesia (KAI) Jateng, John Richard Lutuihamallo ini.
”Cinta itu tumbuh dari perut. Jika kita bisa mengapresiasi makanan, bukan dari nilai harga makanan tapi kualitas bahan makanan, maka akan mempengaruhi pola hidup, kesehatan, dan akhirnya kebahagiaan untuk meraih tujuan hidup,” imbuh wanita yang juga seorang konsultan resto ini.
Helen Santoso, orang tua siswa WL Home Kitchen mengaku senang dua anaknya, Reagan Chen dan Darrell Chen, bisa belajar memasak di bawah bimbingan chef Nanan. Sekalipun dua anak kembarnya itu cowok, ia tetap mensupport dengan memasukkannya di WL Home Kitchen. “Anak saya ada tiga, cuma yang suka memasak yang nomor 1 dan 2, akhirnya saya salurkan di sekolah chef Nanan,”kata Helen.
Helen mengaku, sejak belajar di WL Home Kitchen, kedua anaknya sering browsing menu-menu masakan, kemudian mempraktikknya di rumah. Biasanya dirinya yang membelanjakan bahan-bahannya. “Nah, kalau menemui kesulitan, biasanya ditanyakan langsung ke chef Nanan,” ujarnya.
Tak dipungkiri, kedua anaknya pernah gagal dalam meracik masakan. Akan tetapi ia bangga karena chef Nanan selalu membesarkan hati siswanya. Sehingga sang anak tetap percaya diri dan tidak merasa down. “Anak-anak sering dibesarkan hatinya. Anak-anak juga sering dinasehati oleh chef Nanan. Jadi, kita senang di sini. Bahkan, anak saya sekarang susah kalau diajak jalan buat makan. Mereka pilih masak sendiri di rumah,”kata warga Candi Golf, Semarang ini sambil tersenyum. (jks/aro)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -