Keluhuran Demokrasi Pancasila

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

MAYORITAS masyarakat Indonesia tetap ingin tegaknya demokrasi Pancasila di bumi pertiwi ini. Sebanyak 74 persen masyarakat Indonesia menginginkan demokrasi Pancasila, demikian hasil jajak pendapat Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada Mei 2017 lalu. Angka tersebut cukup memberikan kepuasan dalam komitmen demokrasi kita. Akan tetapi pertanyaanya adalah ke mana 26 persen sisanya?

Dalam rilis resminya LSI mengemukakan sebanyak 8,7 persen masyarakat menginginkan negara Islam, sementara 2,3 persen ingin demokrasi liberal, dan ada 15,09 persen yang tidak menjawab. Ini tentunya memprihatinkan, ketika 8,7 persen saudara kita di negeri ini ingin mendirikan negara Islam. Pergeseran pandangan di masyarakat ini perlu diantisipasi di tengah maraknya aksi-aksi intoleran dan sektarian akhir-akhir ini. Langkah tegas pemerintah membubarkan ormas yang mengusung negara islam atau khilafah perlu kita apresiasi.

Lalu sebenarnya sampai di manakah pencapaian demokrasi kita? Sarah Repucci (2014) dari Freedom House New York mengatakan bahwa Indonesia menjadi representasi semangat demokrasi di wilayah Asia. Para peneliti internasional mencatat bahwa Indonesia sejak pemilihan umum 1998 sampai 2017 mengalami kemajuan demokrasi yang mantap, meskipun terdapat aroma politik uang pada pemilihan umum antara tahun 2009-2014 (Max Walden, 2017).

Namun demokrasi, bagaimanapun juga, lebih dari sekadar pemilihan umum. Politik identitas dan sektarian pada pilkada Jakarta lalu menunjukkan bahwa diskriminasi mayoritas terhadap kaum minoritas yang didasarkan pada ras dan agama masih tetap menjadi tantangan mendasar bagi demokrasi Indonesia.

Satu-satunya jalan untuk meneguhkan kembali komitmen demokrasi kita adalah kembali ke demokrasi Pancasila. Berbeda dengan demokrasi liberal demokrasi Pancasila adalah demokrasi berbasis nilai (value-centered democracy). Nilai yang mencakup lima hal, yaitu ketuhanan, kemanusiaan, keindonesiaan, kerakyatan, dan keadilan (Fadjroel Rachman, 2017). Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara membumikan kembali nilai-nilai demokrasi Pancasila kita yang mulai terkikis?

Sepatutnya kita merenungkan dan menemukan kembali nilai demokrasi Pancasila yang tercecer selama ini. Sejenak mari kita berhenti dari hiruk pikuk teriakan tak berguna di balik tameng kebebasan bersuara pada era reformasi ini. Tahan suara dan jari kita dari fitnah dan hoax yang merajalela di era digital ini. Jernihkan kembali hati dan pikiran untuk menemukan jati diri bangsa kita yang mempunyai keluhuran budaya yang luar biasa.

Pekan Pancasila yang digagas Pemerintahan Jokowi pada hari lahir Pancasila 1 Juni 2017 silam bisa menjadi momentum yang tepat untuk bangkit bersama. “Saya Indonesia Saya Pancasila” bergelora di penjuru tanah air. Semangat ini seakan membawa kembali pancasila lahir untuk kedua kalinya, Pancasila reborn.

Akan tetapi tidaklah cukup kita hanya bersuara “Saya Indonesia Saya Pancasila”. Suara hanya akan tertiup oleh angin kemudian berlalu. Indonesia dan Pancasila harus menjadi darah yang mengalir dalam diri kita. Indonesia dan Pancasila harus menjadi nafas dan denyut nadi kita. Dengan demikian nilai-nilai demokrasi Pancasila akan benar-benar membumi di bumi pertiwi, menjadi denyut dan nafas setiap anak negeri.

Secara Umum, Demokrasi Pancasila adalah suatu paham demokrasi yang bersumber dari pandangan hidup atau falsafah hidup bangsa Indonesia yang digali berdasarkan kepribadian rakyat Indonesia sendiri (Darji Darmodiharjo, 1996).

Kepribadian ini yang menjadikan Pancasila sebagai jati diri bangsa yang sangat dihormati oleh dunia internasional. Sejak kelahirannya, Pancasila telah memukau para pemimpin dunia. Ketika Presiden Soekarno membacakan nilai-nilai Pancasila pada pidatonya di muka Sidang Umum Persatuan Bangsa Bangsa ke-25 pada tanggal 30 September 1960, semua pemimpin sampai berdiri memberikan penghormatan.

Sebagai generasi penerus bangsa, nilai-nilai luhur inilah harus kita pegang teguh untuk menjadi pegangan dan jalan hidup dalam berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, nasionalisme, demokrasi, dan keadilan sosial harus menjadi jalan hidup bersama menuju Indonesia Jaya. (*/smu)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -