Talut yang Longsor Sudah Berusia 20 Tahun

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

SEMARANG – Rusmiyanto masih tidak percaya jika pembangunan talut di pekarangan rumahnya menimbulkan petaka. Dua dari empat pekerja tewas tertimbun talut lama yang longsor. Selain itu, seorang pekerja, Wagimin alias Supri, warga Desa Gempolsewu RT 3 RW 13, Weleri, Kendal, saat ini masih tergolek lemah di RS Tugurejo, Semarang.

Rusmiyanto mengaku mengetahui kejadian tersebut setelah ditelepon menantunya. Sebab, saat kejadian, dirinya sedang berada di luar kota karena urusan pekerjaan. ”Sampai di rumah sekitar pukul 17.30 petang, petugas Basarnas masih sibuk melakukan evakuasi,” kata warga Jalan Candi Mendut Utara I RT 5 RW 5 Kelurahan Manyaran, Semarang Barat ini.

Dia menjelaskan, rencananya setelah talut baru selesai dikerjakan, akan didirikan bangunan baru di atas lahan kosong yang terletak di sebelah timur pekarangan rumahnya itu. Namun tanpa diduga, dinding talut lama yang sudah berumur lebih dari 20 tahun roboh menimpa tiga dari empat pekerja bangunan.

”Sudah seminggu dikerjakan, tetapi baru tahap pembuatan fondasi. Rencananya, akan dibuat ruangan di sebelah, namun belum tahu difungsikan untuk apa,” ujarnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang kemarin, sisa timbunan tanah dan material batu-batu kecil masih terlihat di lokasi longsor. Garis polisi juga masih terpasang di TKP. Selain itu, talut yang longsor untuk sementara ditutup terpal.

Sementara saat dibesuk koran ini, Wagimin alias Supri masih tampak shock dan perlu istirahat total. Ia mengalami patah pergelangan tangan, serta luka di kepala bagian belakang akibat terbentur batu. ”Kondisinya sudah lebih baik dan baru bisa istirahat. Semaleman dia tidak bisa tidur,” kata Junarni, 32, istri Supri, saat ditemui di RS Tugurejo.

Junarni mengaku, dua hari sebelum longsor menimpa suaminya, dirinya sering gelisah tanpa sebab yang jelas. Namun ia tidak menyangka, jika firasatnya itu pertanda akan terjadinya musibah longsor hingga menimpa suaminya.

Dikatakan ibu dua anak ini, suaminya sudah sangat akrab dengan pemilik rumah, Rusmiyanto, karena sudah lama bekerja bareng hingga ke Bali. ”Sebelumnya tidak pernah terjadi apa-apa,” ucapnya.

Pakar Geologi Teknik Undip, Najib PhD, mengatakan, wilayah perbukitan rawan terjadi longsor, termasuk kawasan Manyaran.

Menurutnya, tekstur tanah yang ada di kawasan tersebut lebih dominan lempung. Selain itu, tanahnya bersifat ekspansif, yakni tanah yang mudah mengalami perubahan volume dan bentuk akibat pengaruh kadar air di dalam tanah.

”Ketika terkena air, tanah akan mengembang. Sebaliknya jika dalam kondisi panas, tanah akan menyusut, dan itu akan berpengaruh pada bangunan warga. Seperti dinding mengalami retak-retak,” katanya.

Agar kondisi tersebut bisa dihindari, ada beberapa cara yang dapat dilakukan warga. Yakni, dengan menyuntikkan cairan pasta/semen ke dalam rongga-rongga tanah atau dikenal dengan istilah grouting.

”Fungsinya untuk mengeraskan tanah agar kedap terhadap air. Sehingga tanah tak mudah bergerak. Terpenting, hindari kawasan resapan air seperti berada dekat area sawah, sebab lokasi tersebut rawan,” ujarnya. Seperti diberitakan sebelumnya, dua pekerja bangunan tewas tertimbun talut longsor di Jalan Candi Mendut Utara I RT 5 RW 5 Kelurahan Manyaran, Semarang Barat, Kamis (8/6) sekitar pukul 15.15. Selain itu, seorang pekerja mengalami luka berat, dan seorang lainnya berhasil selamat. Dua korban tewas diketahui bernama Budi Purwanto, 30, warga Bendungan, Kaligarang, Semarang, dan Nur, 20, warga Weleri, Kendal. Sedangkan korban luka, Supri, 40, warga Weleri, Kendal, dan seorang pekerja warga Panjangan, Semarang Barat, yang belum diketahui identitasnya. Sebab, setelah kejadian yang bersangkutan memilih kabur. (aaw/aro/ce1)

Berita sebelumyaJadi Ujian yang Sebenarnya
Berita berikutnyaProyek Pembuatan Polder
- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -