Kantor Dagang Jadi Kantor PT Rajawali Nusindo

Melongok Peninggalan Raja Gula Oei Tiong Ham di Kota Lama

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Di era keemasannya, Raja Gula Asia Tenggara, Oei Tiong Ham, banyak mencengkeramkan kerajaan bisnisnya di Kota Semarang. Selain istana di Pamularsih untuk memantau pergerakan keluar masuk kapal dagangnya, dia juga punya kantor dagang di bilangan Kota Lama. Sekarang kantor dagang itu digunakan PT Rajawali Nusindo. Seperti apa?

AJIE MAHENDRA

PADA abad 18-20, ada kerajaan bisnis bernama Oei Tiong Ham Concern dan NV Kian Gwam di Indonesia. Dari situ, bisnis Oei Tiong Ham meroket hingga mampu menguasai perkebunan tebu, pabrik gula, perbankan, hingga asuransi. Dua juga sempat menjadi importir sejumlah bahan pokok yang dilabuhkan lewat Pelabuhan di Semarang.

Budayawan Semarang, Jongkie Tio, mengatakan, meski banyak bisnis yang dijalankan, Oei Tiong Ham tetap fokus di bidang ekspor gula dan pasir. ”Bahkan dia berani membangun lima pabrik gula yang semuanya terletak di Pulau Jawa. Dari kepemilikan sejumlah pabrik itu, akhirnya Oei Tiong Ham dijuluki sebagai Raja Gula,” paparnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Untuk menunjang pergerakan bisnisnya, Oei Tiong Ham membangun gedung perkantoran di daerah yang saat ini dikenal dengan Kota Lama Semarang. Tepatnya di Jalan Kepodang. Gedung yang dirancang arsitek bernama Liem Bwan Tjie itu cukup kokoh dengan khas menara tinggi di bagian depannya dan melebar ke belakang.

”Di dalam sana terdiri atas loket-loket transaksi pembayaran seperti jual beli, perbankan dan sebagainya,” katanya.

Meski tidak banyak desain bangunan yang diubah, gedung tersebut kini telah berubah nama. Perubahan itu terajadi saat pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi nama terhadap aset-aset Oei Tiong Ham Concern di nusantara. Gedung itu pun diambil pemerintah dengan membentuk PT Perusahaan Perkembangan Ekonomi Indonesia Nasional Rajawali Nusantara (RNI), yang diberi wewenang untuk mengelola seluruh aset eks Oei Tiong Ham Concern. Sekarang perusahaan ini bernama PT Rajawali Nusindo dan berstatus sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Sebagai informasi, PT Rajawali Nusindo pernah tenar lantaran kaitannya dengan kasus terseretnya mantan Ketua KPK Antasari Azhar yang diduga terlibat pembunuhan bos PT Rajawali Banjaran anak perusahan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dalam membongkar kasus korupsi.

”Saya justru senang jika bangunan itu ada yang memiliki, sehingga ada yang merawatnya, sejarah pun terjaga dengan baik dan ada jejaknya,” ujarnya.

Jongkie menceritakan, gedung itu dulu merupakan rumah bisnis kekayaan Oei Tiong Ham, pada puncak kejayaan bisnisnya di dekade 1920-an, total kekayaannya ditaksir mencapai 200 juta Gulden. Tapi pada periode tersebut, Oei Tiong Ham justru sudah tidak tinggal di Indonesia (Hindia Belanda) lagi. Dia meninggalkan Semarang menuju ke Singapura pada 1921, karena perselisihan dengan Pemerintah Hindia Belanda mengenai aturan pajak ganda, serta mengenai hukum waris. ”Semua keluarganya pada pindah keluar Indonesia, ada yang di Singapura, Australia, dan Thailand. Namun kini bisnisnya berkembang di Thailand,” katanya.

Jongkie juga suatu waktu pernah mengantarkan keturunan anak Oei Tiong Ham dari istri ketujuhnya. Oei Ting Ham memiliki delapan istri dan 26 anak. Dia mengantar melihat bangunan sisa milik peninggalan sang moyang.

”Saya ajak ke Bernic Castle, Istana Pamularsih, kuburan bekas ayahnya di Bongsari, gedung kantor Rajawali sampai rumah kuno di Jalan Pandanaran (rumah Safitri, Red) dan gedung tua yang di tempati BCA Jalan Pemuda, itu dulu kantor pemasaran perumahannya,” bebernya.

Bahakan Jongkie juga menduga masih banyak bangunan kuno milik Oei Tiong Ham di Semarang, hanya saja sudah berpindah kepemilikannya. Dia pun mengira jika bangunan di sebelah gang Jalan Kepodang dekat kantor Rajawali Nusindo juga milik Oei Tiong Ham.

”Kalau tidak salah, Monod Huis itu juga milik Oei Tiong Ham. Sekarang kondisinya masih bagus karena ada yang merawat. Malah direvitalisasi. Kabarnya akan dibuat sentra workshop sejarah batik,” katanya. (*/aro/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -