Prihatin, Sikap Toleransi yang Kini Semakin Pudar

Anto Galon, Warga Semarang yang Raih Gelar Film Terbaik

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Penantian panjang Anto Galon akhirnya berbuah manis. Setelah melalui sederet penilaian panjang, akhirnya film karyanya berjudul Kau Adalah Aku Yang Lain sukses menjadi yang terbaik pada perhelatan Police Movie Festival 2017 di Gedung Teater Jakarta, 10 Juni lalu. Seperti apa?

AHMAD ABDUL WAHAB

ANTO Galon adalah warga asli Genuk Krajan, Kelurahan Tegalsari, Candisari, Semarang. Dia dikenal sebagai pemain teater dan aktor sejumlah film layar lebar. Namun kali ini, pria bernama asli Sugiyanto ini, membuat karya film pendek berjudul Kau Adalah Aku Yang Lain.

Saat ditemui di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Anto Galon mengaku bersyukur film karyanya dinobatkan menjadi film pendek terbaik dalam ajang yang diselenggarakan oleh Polri tersebut.

Alhamdulillah, saya sangat bersyukur sekali, apalagi menjadi yang terbaik. Ini suatu kebanggaan yang tak ternilai harganya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pria kelahiran 16 Mei 1973 itu menuturkan, dalam festival itu diikuti oleh ratusan peserta. Dewan juri terdiri atas Wulan Guritno, Aryo Bayu, dan Renny Jayusman.

”Ada 241 film yang masuk sebelum disortir menjadi 30 besar hingga terpilihlah 10 nominasi terbaik. Nah di momen inilah rasanya sudah nggak  karuan, karena 10 film yang lolos diputar secara bergantian dan pastinya banyak masukan pula,” ujarnya.

Ketika ditanya isi cerita dalam film Kau Adalah Aku Yang Lain, Anto menceritakan, di luar tema Unity in Diversity dalam Police Movie Festival 2017 ini, sebenarnya film yang berdurasi 6 menit 55 detik tak ubahnya luapan emosi yang kerap membayang di pikirannya selama ini. Ia merasa prihatin toleransi ataupun sikap saling menghargai yang sudah menjadi ciri khas Indonesia kini semakin pudar.

”Intinya kalau kita berbicara tentang humanity, kita harus satu, yakni tidak memandang perbedaan ataupun mengotak-ngotakkan antara satu dengan lainnya. Berbeda dengan saat ini, terkadang yang masih satu keyakinan malah tidak menghargai. Dan itu jelas bertentangan dengan Pancasila yang menghargai multikultur,” bebernya.

Secara garis besar, kata dia, pesan humanity dan toleransi tergambar dalam sebuah adegan, di mana mobil ambulans yang sedang dalam perjalanan ke rumah sakit dihadapkan pada jalan yang terputus dan satu-satunya jalan adalah harus menerobos jamaah pengajian. Padahal di dalam mobil itu terbaring seorang pria yang sedang sekarat, tetapi berlainan keyakinan. Setelah dilakukan penolakan, namun situasi berubah setelah kedua belah pihak saling mengalah dengan mengedepankan sisi kemanusiaan.

Kun Fayakun, kalau Allah menghendaki lalu kita bisa apa, kita tidak bisa memaksaan kehendak. Kebersamaan itu indah,” tuturnya.

Di samping itu, aktivis Teater Lingkar ini mengatakan, di antara film yang telah dibuatnya, karya terakhir inilah yang dianggap paling sulit dan penuh tantangan.

”Salah satu aktor tiba-tiba menghilang tanpa pamit, alhasil penggarapan yang harusnya 2 hari molor menjadi 3 hari. Imbasnya budget naik dan tak sesuai dengan nominal yang didapat,” ungkapnya.

Menariknya lagi, penggarapan film yang berdurasi kurang dari 7 menit itu tidak main-main. Bahkan agar memberikan efek hujan nyata disewa pula mobil pemadam kebakaran. Tak hanya itu, dalam adegan pengajian yang terlihat sungguhan justru diubahnya menjadi setting-an atau rekayasa.

”Kiai Budi Harjono sudah menawari agar pengambilan gambar bersamaan dengan tausiahnya, tapi untuk alasan kenyamanan dan menghargai jamaah lain kita buat rekaan saja,” katanya

Pria yang kini tinggal di Jakarta ini berharap, apa yang telah ditorehkannya itu bisa menjadi spirit serta motivasi yang berlebih, khususnya untuk dunia perfilman di Semarang. Sehingga ke depan akan muncul bakat-bakat yang tersembunyi di tanah kelahirannya itu.

Diakui, minimnya ruang serta apresiasi dan dukungan, menyebabkan hanya sedikit yang bertahan. Rata-rata mereka cenderung berkarya secara underground.

”Tokoh-tokoh asal Semarang justru lebih banyak dikenal di luar daerah, sudah saatnya seperti Dewan Kesenian Semarang menjembatani mereka. Kita harus belajar dari Solo, Jogja bahkan Banyumas, karena di sana apresiasi masyarakatnya luar bisa, dan tak perlu kebingungan mencari ruang untuk mengenalkan karya masing-masing,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Anto Galon ke depan juga akan mengadakan workshop tentang dunia film di Semarang. ”Sejumlah kolega di ibu kota sudah siap seperti aktor Lukman Sardi, tetapi belum tahu waktunya kapan,” katanya. (*/aro/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -