Jika Terpaksa, Woro jadi “Orang Gila”

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

PANGGILAN hati merupakan jawaban Wiworo Nugrahani, 58. Ia pernah menjadi pendamping rohani bagi para korban kejiwaan di Rumah Sakit Jiwa dr. Soerojo Kota Magelang selama 20 tahun lebih. Kini, Wiworo bergabung menjadi pendamping di Rumah Pemulihan Anak Bangsa.

Jauh sebelum menjadi pendamping tetap di Rumah Pemulihan Anak Bangsa, perempuan bercucu lima ini, intens berkeliling membantu pemulihan jiwa bagi anak-anak jalanan serta perempuan berjiwa labil.

“Saya adalah ibunya anak-anak punk. Mungkin orang lain jijik, merasa tidak suka dengan bau anak punk, tapi saya seolah mendapat rahmat Tuhan, sehingga tidak pernah mencium bau dari anak punk. Saya seperti dibekali instuisi ketika melihat seseorang sedang mengalami kegelisahan jiwa. Akhirnya, saya memberanikan diri mendekati dan bertanya,” beber nenek lincah itu.

Menjadi pendamping kejiwaan, menurut Woro—sapaan intimnya—butuh kesabaran ekstra tinggi. Juga harus mampu menjadi orang yang dipercaya oleh korban. Terkadang, para korban yang sedang mengalami kekosongan jiwa, rata-rata diam. Tidak mau menceritakan permasalahannya.

“Kadang, saya harus menyapa terlebih dahulu dengan apa yang dikenakannya. Semisal, pertanyaan pertama ternyata tidak mendapatkan respons, saya coba gali latar belakangnya. Sebab, mau tidak mau, kami akan berusaha mengetahui latar belakang korban, baik melalui keluarganya atau dari orang-orang yang tahu permasalahannya,” ungkap ibu berputra empat ini.

Tidak jarang, lanjut Woro, ia juga harus ikut-ikutan gila agar bisa menarik perhatian korban dan mulai tersenyum. Pendekatan-pendekatan berbeda, menurut Woro, ia terapkan pada pasien-pasien berbeda.

Ketika menangani pasien perempuan yang dibuang atau ditinggal suaminya, Woro memosisikan diri menjadi pendamping atau teman curhat si pasien. Tujuannya, agar korban tuntas bercerita. “Menangani pasien seperti ini harus ekstra, karena pemulihan jiwa harus juga memikirkan pemulihan ekonomi. Khusus korban Lansia, lanjut Woro, seperti memahami anak kecil. Sebab, lansia kadang dihinggapi pikun dan terkesan cuek. (agus.hadianto/isk)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -