Rendah, Konsumsi Ikan di Jateng

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

SEMARANG – Angka Konsumsi Ikan (AKI) di Jateng tergolong masih sangat rendah. Pada 2016 lalu, hanya sebesar 26,28 kg per kapita per tahun. Masih sangat rendah bila dibandingkan AKI nasional yang mencapai 43,99 kg per kapita per tahun. Angka itu pun masih di bawah batas minimal AKI yang dianjurkan pada ahli, yaitu 31,41 kg per kapita per tahun.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jateng, Lalu M Syafriadi menjelaskan, AKI memang masih masih jauh dari tingkat yang diharapkan. Meski begitu, capaian tersebut bila didasarkan pada RPJMD DKP Jateng tahun 2014-2018 AKI telah melebihi target. Target RPJMD pada 2016 adalah 20,55 kg per kapita per tahun dengan capaian 26,28 kg per kapita per tahun.

Untuk Kota Semarang, imbuhnya, berdasarkan data Susenas 2016 AKI Kota Semarang mengalami peningkatan luar biasa yaitu sebesar 157 persen dari Nilai A sebesar 9,34 kg per kapita per tahun menjadi 24,06 kg per kapita per tahun di 2016. Kota Semarang menempati urutan tiga besar Jateng berdasar nilai A hasil Susenas 2016.

Menurut Lalu, rendahnya AKI di Jateng disebabkan karena masyarakat belum sadar pentingnya mengonsumsi ikan. ”Selain itu adalah budaya atau adat istiadat masyarakat Jateng masih memilih iwak pitik daripada ikan. Ini sangat berbeda dari warga Lombok, atau saudara kita di wilayah timur lainnya dimana ikan menjadi pilihan utama keluarga. Bahkan dapat dikatakan tidak akan makan kalau tidak ada ikan,” terangnya.

Karena itu, pihaknya berharap agar makan ikan menjadi pilihan dalam pemenuhan gizi keluarga. Apalagi sumber daya ikan di Jateng tergolong sangat besar, bahkan surplus produksi. Pada 2016 lalu, produksi ikan tercatat 789.453 ton. Sedangkan konsumsi ikan berdasarkan hasil Susenas masih sebesar 390.721 ton.

Menurutnya, peningkatan konsumsi ikan akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Jika konsumsi ikan meningkat, diharapkan akan mendorong tumbuhnya produksi, pengolahan dan pemasaran ikan. Termasuk menumbuhkan industri perikanan di Jateng, khususnya perekonomian di Kota Semarang ini bisa semakin meningkat. ”Melalui gemar makan ikan, kita harapkan asupan gizi akan meningkat sehingga dihasilkan sumber daya manusia Jateng yang sehat, kuat dan cerdas,” bebernya.

Sementara itu, Wakil Ketua I Tim Penggerak PKK Jateng, Sudarli Heru Sudjatmoko menambahkan, ikan merupakan salah satu komoditas pangan yang sangat penting untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia karena gizinya yang sangat bagus. Dengan pemenuhan gizi yang baik pada 1.000 hari pertama kehidupan anak, diharapkan anak tumbuh sehat, cerdas, menjadi generasi dibanggakan dan dapat mengelola Indonesia dengan sebaik-baiknya.

Sekarang ini pengolahan ikan sudah sangat beragam. Bahkan ikan bandeng yang durinya sangat banyak, sudah bisa dicabuti dengan pinset. Sehingga, memudahkan untuk dikonsumsi. Banyak pula ikan yang rasanya sudah divariasikan, dipadukan dengan keju dan bahan lain yang membuat rasanya berbeda.

Meski banyak produk ikan olahan, Sudarli tetap berharap masyarakat dapat mengolah ikan sendiri dengan lebih baik. Mereka diminta mempelajari cara mengoreng ikan yang hasilnya renyah di luar tapi tetap lembut di dalam, mengolah ikan agar tidak amis dengan terlebih dahulu membilasnya dengan air jeruk nipis dan memberikan rempah-rempah, seperti jahe atau kunyit, membuat sup ikan yang lezat, atau menguasai menu olahan ikan lainnya.

”Supaya matang enak dan dalamnya lembut, rahasianya, kalau menggoreng, nunggu minyaknya benar-benar panas. Itu barang sepele, tapi kadang dilewatkan ibu-ibu. Memang matang, tapi rasanya beda. Ikan itu memang paling enak dimakan, paling gampang dimasak. Dipepes, digoreng, disup. Makanya, mari kita tinggikan konsumsi ikan sehari-hari,” ujar Sudarli. (amh/ric/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -