Magelang Lautan Api

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Tidak hanya Kota Kembang yang melegenda dengan sebutan Bandung lautan api ketika pecah perang kemerdekaan. Kota Magelang juga pernah menjadi lautan api saat terjadi agresi militer II Belanda  pada Desember 1948. Ketika itu: Kota Sejuta Bunga nyaris rata dengan tanah, akibat siasat bumi hangus.

ABAK Roflin bin Sabar, kini usianya sudah senja: 89 tahun. Namun, ingatan Abak yang kini menetap  di Kampung Tulung, Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah itu, masih sangat segar. Pria sepuh yang intim disapa Mbah Abak ini, bisa mengingat detail peristiwa yang terjadi pada 69 tahun silam.

Ketika agresi militer II Belanda pada 19 Desember 1948, Abak berusia 20 tahun. “Waktu itu saya masuk Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI). Tugasnya,  membakar gedung-gedung penting yang ada di Kota Magelang,” tutur Abak saat ditemui Jawa Pos Radar Kedu di rumahnya, akhir pekan lalu.

Merujuk catatan sejarah yang ada, Amran Halim dan Yayah B. Lumintaintang pada buku 30 Tahun Indonesia Merdeka (1985), ketika agresi militer II dilancarkan oleh tentara Belanda pada  19 Desember 1948, Panglima Besar Jenderal Soedirman langsung merespons dengan mengeluarkan perintah penting.

Pagi pukul 08.00, Soedirman mengeluarkan surat perintah kilat yang dibacakan di radio. Surat ini dikenal dengan istilah Surat Perintah Siasat Nomor 1. Isi surat memuat sejumlah poin. Yakni: tidak melakukan pertahanan yang linier; memperlambat setiap majunya serbuan musuh dan pengungsian total, serta bumi hangus total; membentuk kantong-kantong di setiap onderdistrik yang mempunyai kompleks di beberapa pegunungan; pasukan-pasukan yang berasal dari daerah-daerah federal menyelusup ke belakang garis musuh (wingate) dan membentuk kantong-kantong, sehingga seluruh pulau Jawa akan menjadi medan gerilya yang luas (Halim, 1985: 192-193).

Menindaklanjuti Surat Perintah Siasat Nomor 1, maka Tentara Pelajar Magelang dan elemen pasukan lainnya di Kota Magelang melakukan siasat bumi hangus. Menghancurkan bangunan-bangunan vital dan sekolah. Hampir semua bangunan sekolah dan gedung-gedung penting di Magelang luluh lantak. Magelang membara. Suasana mencekam. Banyak warga yang mengungsi.

“Kejadiannya sekitar tanggal 20 Desember 1948, tentara, BPRI, dan barisan pelajar yang ditugaskan mulai melaksanakan siasat bumi hangus. Semua gedung-gedung kantor pemerintah, markas-markas, tangsi militer, sekolah-sekolah, dan gedung-gedung yang penting lainnya dibakar.” Kecuali, kenang Abak, tempat-tempat ibadah, pasar, dan kantor residen.

Gedung-gedung di Kota Magelang yang hancur akibat bumi hangus, kata  Abak, antara lain sebagian tangsi militer dan kader School, gedung kantor kawedanan Bandongan, gedung SR IV, gedung Syoto Cho Gakko eks Mulo, gedung Kesenian di Panti Peri, dan Hotel Nitaka  atau Hotel Montange. Gedung-gedung lain yang dibakar adalah bangunan di sepanjang Poengkoeran, gedung markas mobile brigade polisi di karesidenan, markas ALRI, gedung Balai Pemuda, gedung Asia Raya, Hotel Loze, bioskop Roxy, gedung Susteran, gedung Mosvia,  kantor polisi di  Gejuron, dan lainnya.

“Waktu itu gedung PDAM yang sekarang, tidak berhasil dibakar karena tidak sempat. Gedung karesidenan juga tidak sempat dibakar. Pasar tidak dibakar. Semua warga dan tentara bekerja sama membakar kota Magelang. Kota Magelang saat itu hampir rata tanah,” kata kakek kelahiran 21 Maret 1928 itu. Bumi hangus dilakukan agar bangunan-bangunan vital di Kota Magelang tidak digunakan sebagai markas oleh pasukan tentara Belanda.

Dua hari kemudian, tepatnya pada 22 Desember 1948, Belanda melakukan serangan besar-besaran ke Magelang. Serangan Belanda dilakukan melalui dua arah. Arah pertama, Brigade W pasukan Belanda, bergerak dari Gombong ke Purworejo, kemudian  menuju Magelang melalui Desa Krasak. Arah kedua, Brigade T bergerak dari Yogyakarta ke arah Muntilan, kemudian menuju Magelang melalui perempatan Pakelan, Magelang.  “Tentara Belanda datang dari arah Yogyakarta dan Purworejo, sekitar pukul 9 malam. Tentara  Belanda mengepung Kota Magelang dengan berbagai kendaraan membentuk leter U,” kenang Abak.

Mbah Abak mengaku tidak begitu ingat ada berapa korban di pihak pejuang dan TNI yang gugur. Dia hanya mengingat satu temannya kena tembak. “Yang jelas, teman saya, Edi Supangat, kena tembakan karena tidak bisa lari. Setelah itu, pasukan Republik menyingkir ke arah kulon (Bandongan) sambil tetap bergerilya,” ucap kakek 22 cucu itu.

Tentara Belanda, kenang Abak, terus tinggal dan menetap di Kota Magelang hingga terjadinya penyerahan kedaulatan. Beberapa pasukan pejuang, pada saat itu membaur dengan rakyat dan bekerja sebagai petani. “Waktu itu, saya juga menyingkir ke Bandongan, ikut bergerilya memakai  bambu runcing, sembari menjadi  petani hingga penyerahan kedaulatan.” Setelah penyerahan kedaulatan, kata pensiunan Brimob tersebut, semua tentara Republik dan laskar pejuang turun gunung dan masuk ke Kota Magelang. (agus.hadianto/dari berbagai sumber/isk)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -