Kanjengan Dieksekusi, Pedagang Histeris

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

SEMARANG-Eksekusi perobohan Pasar Kanjengan, kompleks Pasar Johar Semarang, berlangsung tegang, Rabu (23/8) kemarin, sekitar pukul 09.30. Pasalnya, ratusan pedagang berkumpul untuk mengadang ratusan aparat gabungan. Mereka masih berusaha menolak eksekusi pihak berwenang tersebut.

Kendati begitu, pada akhirnya para pedagang tidak bisa berbuat banyak. Karena jumlah personel gabungan mulai dari Satpol PP, aparat kepolisian dan TNI berpakaian preman, serta sejumlah kelompok Organisasi Masyarakat (Ormas), jumlahnya jauh lebih banyak.

Sejak pukul 08.30, aparat gabungan telah dikumpulkan di Alun-Alun (pojok Pasar Yaik Baru) untuk apel persiapan. Pukul 09.25, aparat gabungan merangsek masuk menuju Blok C. Eksekusi kali pertama, dilakukan di Blok C. “Ini habis peringatan Indonesia Merdeka, kok malah kayak gini gimana ini?” teriak seorang pedagang di sela-sela kerumunan massa.

Para pedagang sempat bersitegang memprotes eksekusi tersebut. Bahkan, beberapa pedagang yang terlihat vokal berusaha melakukan orasi, langsung digelandang aparat berpakaian preman. “Ini bukan hanya pengosongan. Tapi perintahnya perobohan,” kata Ketua Tim Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Ali Nur Yahya saat memimpin eksekusi.

Dia dengan tegas menyatakan tidak ada negosiasi, karena eksekusi ini merupakan keputusan Pengadilan. PT Pagar Gunung Kencana (PGK) selaku pihak yang bertanggung jawab membiayai pembongkaran dinyatakan tidak ada keterangan lebih lanjut.

“Kepada semua warga atau siapa saja, mulai hari ini kami mohon mengeluarkan barang-barang. Jika tidak dikeluarkan, maka akan kami robohkan. Saat ini, saya tidak mau berdebat. Jika ada yang protes, dipersilakan ke pengadilan,” tegasnya.

Seorang pengacara atau kuasa hukum pedagang Kanjengan, Subali, terpaksa diciduk alias diseret oleh aparat keamanan. Dia bermaksud meminta waktu untuk berbicara usai Ketua Tim Eksekusi Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Ali Nur Yahya, membaca surat berisi hasil keputusan PN Semarang di hadapan kerumunan pedagang.

Ali Nur Yahya dengan nada lantang dan hampir tanpa jeda, membacakan putusan pengadilan bahwa Blok C dan D akan dilakukan eksekusi perobohan, bukan pengosongan. “Silakan semua barang dikeluarkan, jika tidak, kami akan robohkan,” kata Ali.

Pengacara Subali, sempat menyela untuk berbicara dan bermaksud meminta kelonggaran waktu agar pedagang bisa melakukan pengosongan. “Tolong, saya minta waktu bicara. Nggak apa-apa ini dibongkar, yang penting ini ada berita acaranya. Kalau warga taat,” kata Subali.

Akibat protes tersebut, sejumlah aparat berpakaian preman membawa Subali ke luar areal eksekusi karena dinilai sebagai provokator. “Saya tidak mau berdebat, apabila ada yang tidak terima silakan di pengadilan,” timpal Ali Nur Yahya.

Eksekusi Kanjengan pun tetap berlangsung. Tim PN Semarang dibantu aparat Satpol PP Kota Semarang mengerahkan petugas dengan dibagi dua tim. Tim pertama masuk pasar untuk membuka masing-masing pintu kios, agar mudah dirobohkan menggunakan alat berat. Sedangkan tim kedua menyiapkan pagar seng untuk didirikan mengelilingi Blok C.

Seorang wanita yang merupakan pedagang Toko Emas, Sri Suhartingsih alias Nunuk, 60, berteriak histeris karena merasa mendapat perlakuan tidak adil dalam eksekusi Pasar Kanjengan ini. “Kami tidak diberi kesempatan. Katanya saya provokator! Aku ndak terima. Tanya pedagang lainnya, aku provokator apa ndak?” ujar Nunuk, menggebu-gebu.

Dikatakannya, tempat relokasi yang dijanjikan oleh Dinas Perdagangan Kota Semarang, sampai sekarang tidak ada. “Saya kemarin sudah ngadep Pak Pri (Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi), sudah dikasih (tempat relokasi) katanya. Pak Fajar ngomong, yang tidak mau dibongkar hanya tiga toko,” katanya.

Kendati begitu, saat ini dia bersama rekan-rekannya hanya bisa pasrah dan tidak tahu akan mengambil langkah apa. Termasuk akan berjualan di mana. Saat dia menghadap Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi beberapa waktu lalu, lanjut Nunuk, Kepala Dinas Perdagangan Fajar Purwoto ditelepon oleh Supriyadi dengan loadspeaker. “Saya dengar sendiri, Pak Fajar bilang (soal relokasi) sudah selesai dan dibereskan semua. Tapi faktanya belum. Tanyain pedagang, mumpung di sini semua,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto di lokasi Kanjengan mengatakan rekapitulasi jumlah pedagang Kanjengan, di Blok C ada 36 pedagang, yang sudah registrasi di tempat relokasi sebanyak 31 pedagang dan pedagang yang sudah mengambil undian 25 orang. Sedangkan di Blok D, jumlahnya 34 pedagang, yang sudah registrasi 13 orang dan sudah mengambil 8 orang. “Totalnya pedagang Blok C dan D sebanyak 70 orang, yang sudah registrasi 44 orang, dan sudah ambil undian 33 orang. Sedangkan untuk pedagang Pancakan ada 828 orang,” katanya.

Dijelaskannya, eksekusi ini dilakukan di Blok C dan D. Jadi, lanjutnya, jika ada pihak yang protes di luar dipersilakan disampaikan melalui pengadilan. “Untuk Blok C dan D ini tidak ada masalah. Memang ada beberapa yang komplain, tapi mereka merupakan Blok A, B dan F. Itu memang masih berperkara, sehingga kami tidak akan membongkar apapun, selain Blok C dan D. Untuk Blok C dan D, akan kami bangun menjadi Pasar Johar Baru,” katanya.

Fajar membantah soal ungkapan warga yang menyatakan bahwa saat ini belum disediakan tempat relokasi. “Sudah ada relokasi, semua di sana (kompleks Masjid Agung Jawa Tengah/MAJT). Hanya ada satu dua orang provokator yang mengomplain itu hal biasa, wajar, silakan. Bahkan kalau tempat relokasi tidak muat, mau menempati di pasar mana saja, saya persilakan. Di Semarang ada 48 pasar. Tapi tolong, program pemerintah untuk membangun Pasar Johar Baru ini jangan dihalang-halangi,” katanya.

Pihaknya menyatakan telah berkomitmen bersama pihak PN Semarang. “Hari ini (kemarin, red), pembacaan eksekusi, pembukaan pintu-pintu, dan kami beri interval 3 hari. Selebihnya Blok C dan D diberi waktu pengadilan selama 3 minggu harus roboh. Seandainya tidak, akan kami mintakan perpanjangan satu minggu. Sehingga praktis satu bulan ini, Blok C dan D rata dengan tanah,” tegasnya.

Mengenai anggaran pembangunan, Fajar memastikan akan segera turun Rp 100 miliar dari Kementerian Perdagangan RI. “Teknisnya, karena keterbatasan waktu pelaksanaan pembangunan Blok C dan D, maka kami akan minta ke Pak Wali Kota untuk membuat surat perpanjangan waktu. Karena logikanya anggaran Rp 100 miliar dengan waktu dua setengah bulan nonsen. Tidak ada yang berani menyelesaikan pembangunan. Target kami awal September, Dipa dari Pemerintah Pusat sudah turun. Blok D mulai dibangun tanggal 15 Oktober,” terangnya.

Sedangkan untuk 2018, anggaran dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sudah siap Rp 300 miliar. “Jadi, ini kurang apa? Pak Wali Kota sudah berupaya, kami sudah berupaya memperjuangkan pembangunan untuk pedagang. Seharusnya pedagang tinggal ikut saja, beres kok. Sekarang kalau pedagang kami atur ndak mau, ndak masalah. Tapi otomatis data base pedagang (yang nggak mau pindah) saya hilangkan,” katanya.

Pembongkaran akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari Blok C, kemudian Blok D. Pihaknya meminta kepada semua pedagang untuk segera mengeluarkan barang-barangnya. “Eksekusi ini sifatnya tidak ada tawar menawar. Sebab ini ranah hukum yang mengeluarkan putusan bersifat mengikat dan harus dilaksanakan. Kami tegaskan, bahwa pedagang yang mau ditata Alhamdulillah. Jika tidak, juga tidak apa-apa, tapi data base-nya, kami coret gitu saja. Nanti pedagang yang dicoret, kalau pembangunan sudah selesai, tidak dapat lapak maupun kios,” imbuhnya.

Dia juga meminta agar para pedagang bisa saling bersinergi, sehingga pembangunan Pasar Johar Baru segera terealisasi. Untuk bangunan di Kanjengan ini nantinya empat lantai. “Tidak usah bermain provokator. Sebetulnya tidak ada masalah kok, tapi hanya dikemas oleh beberapa orang seolah-olah ada masalah. Nanti kami bertahap, apabila bangunan Kanjengan jadi, pedagang langsung kami masukkan,” jelasnya.

Lebih lanjut, kata Fajar, pedagang Blok C dan D ini sebetulnya merupakan tanggung jawabnya PT Pagar Gunung Kencana. “Tapi karena alasan sosial dan secara psikis harus dibantu, maka mereka kami fasilitasi untuk diberikan tempat relokasi di MAJT. Apabila difasilitasi tidak mau ya sudah, gitu saja. Padahal sampai mereka nanti menempati bangunan baru, tidak sepeserpun mengeluarkan uang. Semua gratis,” pungkasnya. (amu/ida)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -