Tinggi, Perceraian di Wonosobo

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

WONOSOBO—Angka perceraian di Kabupaten Wonosobo tergolong tinggi. Hal itu dibuktikan dengan peningkatan jumlah pasangan cerai yang cenderung meningkat setiap tahunnya.

Berdasarkan data yang dimiliki Kantor Kementerian Agama (Kemenag), penurunan jumlah perceraian hanya terjadi pada 2015. Selanjutnya, angka perceraian di kota dingin itu, terus melonjak.

“Trennya naik, hanya turun di 2015. Tingkat cerainya ini hampir sama dengan yang terjadi di Banyumas,” kata Pelaksana Tugas Kepala Kantor Kemenag, Cahyo Sukmana, saat membuka kursus calon pengantin

Tren peningkatan dari tahun ke tahun, sebanyak 1.363 perceraian, dengan jumlah pernikahan 7.841 pada 2015. Kemudian, pada 2016, naik menjadi 1.706 perceraian, dengan jumlah pernikahan sebanyak 7.263. Nah, hingga Agustus 2017, sudah tercatat 780 perceraian, dengan jumlah pernikahan sebanyak 4.468.

Cahyo menyampaikan, ada banyak faktor yang menyebabkan angka perceraian di Wonosobo sangat tinggi. Di antaranya, karena faktor nikah dini, tradisi menikahkan anak pada usia muda, faktor ekonomi, penyalahgunaan teknologi, hingga banyaknya warga yang merantau ke luar negeri. “Nikah dini ada yang disebabkan budaya, ada yang karena telanjur hamil dan sebagainya. Faktor ekonomi juga dominan, TKI juga rentan cerai.”

Karena itu, Cahyo berpesan kepada para calon pengantin untuk menyiapkan mental dalam merajut mahligai rumah tangga. Masing-masing pasangan, saran Cahyo, harus memiliki semangat pemakluman yang tinggi kepada pasangannya. “Menutupi kelemahan pasangan dan menjalin komunikasi yang baik dengan pasangan.” Sebab, lanjut Cahyo, umumnya ujian pada pernikahan yang usianya baru, sangat tinggi. “Sehingga butuh kesiapan mental yang lebih.”

Karena itu, untuk menekan angka perceraian, Kemenag melakukan berbagai upaya. Salah satunya, melalui sosialisasi dan kursus bagi calon pengantin. “Harapan saya, yang nikah nanti bisa menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah.” Catatan koran ini, kursus calon pengantin diikuti 100 pasang. Tujuan kegiatan untuk menekan angka perselisihan, kekerasan, dan perceraian perkawinan.

“Ada 100 pasang calon pengantin dari 15 kecamatan yang mengikuti kursus. Mudah-mudahan bisa bermanfaat dan bisa menekan perceraian.” (cr2/isk)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -