Tolak Pindah ke MAJT

Pedagang Kanjengan Pilih Jualan di Jalan

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

SEMARANG Dua gedung Blok C dan D Kanjengan, Semarang telah dikosongkan. Semua barang milik pedagang telah dikeluarkan. Kedua bangunan tersebut tampak sepi dan tidak ada aktivitas pedagang di dalamnya. Terlihat pagar seng menutup rapat mengelilingi dua bangunan Blok C dan D  agar tidak ada satupun pedagang yang bertahan. Sebab, dua bangunan itu akan segera dirobohkan menggunakan alat berat.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang di lokasi Ruko Kanjengan, Kamis (24/8), sejumlah pedagang baik toko emas, toko buah, toko kelontong, maupun pedagang pancakan, sudah tidak ada satupun yang menempati Blok C dan D Kanjengan.

Informasi di lapangan menyebutkan bahwa para pedagang telah berpencar menyelamatkan barang dagangannya.  Sebagian dari mereka juga menyatakan tidak mau menempati tempat relokasi di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) sebagaimana disediakan oleh Dinas Perdagangan Kota Semarang.

Para pedagang memilih berjualan di tepi jalan, serta mengontrak kios di tempat lain. Salah satunya Toko Fajar. Setelah Blok C dan D dibongkar, toko tersebut pindah ke Blok E nomor 15.  Namun pemiliknya menolak diwawancarai untuk sekadar berbincang.

Banyak pedagang lain juga mengungkapkan kekecewaan. Mereka sebetulnya bukan menolak direlokasi, tetapi tempat relokasi yang ada dinilai tidak layak dan membuat mereka sedih.

Wong gedhe do rak iso mikirke rakyate. Asline pindah yo gelem, tapi mbok ya diberi tempat layak. Cobo bayangke, toko emas kok manggon relokasi gedhek triplek. Lha yo malah dirampok, didodosi tikus,” keluh salah satu pedagang yang enggan menyebut namanya.

Menurutnya, langkah pemerintah dinilai arogan karena mau menjalankan kebijakan pembangunan, tapi prosesnya tidak dipersiapkan dengan baik. Tempat relokasi seharusnya dijadikan terlebih dahulu agar pedagang tidak dirugikan. “Mbok ya relokasi didadekke sik. Lha ini tidak dikasih tempat, cuma mau dibuang di MAJT sana. Bakul emase yo mesti ora gelem,” katanya.

Sedangkan para pedagang pancakan memilih berpencar di tepi  jalan. Mereka tetap berjualan dengan alasan agar penghasilan tidak terputus. “Kalau nggak jualan terus mau makan apa? Pedagang itu kalau libur sebentar aja sudah mumet. Apalagi ini direlokasi bertahun-tahun. Lihat aja, di MAJT aja sekarang banyak pedagang gulung tikar. Mbok pemerintah bisa mencari solusi seperti ini,” ujarnya.

Mereka mengaku paham tentang program pembangunan yang dilakukan pemerintah ke depannya juga untuk pedagang. Tetapi program pembangunan seharusnya dilakukan dengan tidak merugikan pedagang. “Kalau bangkrut dalam waktu sekejap bagaimana? Ini urusan perut kok diminta menunggu bertahun-tahun dalam kondisi di relokasi tidak layak,” keluhnya.

Ketua Paguyuban Warga Kanjengan, Bambang Yuwono, mengaku tidak bisa berbuat banyak. Pasca Blok C dan D resmi ditutup menggunakan pagar seng, pedagang hanya bisa pasrah. Mereka tidak bisa berjualan dan penghasilan sehari-hari terputus.

“Saya bingung, tidak bisa apa-apa. Lha gimana lagi, faktanya seperti itu. Eksekusi tetap dilakukan, padahal seharusnya menunggu dulu proses hukum. Karena saat ini masih proses Peninjauan Kembali (PK) 2 di Mahkamah Agung. Ya, hanya bisa pasrah ‘lho kok seperti itu’. Kemarin saja, saya dan pengacara saja hanya mau ngomong ‘mbok ditunda dulu sampai ada keputusan tetap’, gitu aja saya dan pengacara langsung disikep, digeret, sampai jauh,” katanya.

Dia bermaksud hendak menyampaikan aspirasi. “Saya kan bilang ‘mbok jangan gitu’. Eh, langsung ada yang memerintahkan ‘amankan’! Saya diseret oleh empat orang, dikithing di leher, apa nggak sakit itu,” ujarnya.

Menurut Bambang, setelah dieksekusi, praktis para pedagang berhenti berdagang. Sebab, saat ini sudah tidak ada tempat untuk berdagang. “Pedagang pancakan juga bingung, mereka mau jualan di mana. Di MAJT? Silakan cek sendiri tempatnya seperti apa? Silakan disurvei sendiri di sana, tempatnya sama sekali tidak layak. Saya bisanya ya cuma kasihan thok,” katanya.

Bambang mengatakan, saat ini ada 60 lebih toko, dan kurang lebih 800 pedagang pancakan. Dari kisaran jumlah tersebut, terdapat kurang lebih 10 pedagang toko emas. Omzet toko emas masing-masing di hari biasa diperkirakan Rp 5 juta per hari. Otomatis, roda ekonomi berhenti. “Karyawan nganggur. Kalau toko emas mau ke MAJT tidak memungkinkan. Tapi, dengan adanya eksekusi ini ya mereka nganggur,” ujarnya.

Lebih lanjut Bambang mengatakan, langkah sementara yang bisa dilakukan para pedagang hanya mengamankan barang dagangannya. Menurutnya, eksekusi ini kurang tepat waktunya.

“Saya pribadi berharap, tunggu dulu sampai pemkot bener-bener menyediakan tempat relokasi yang tepat. Pihak toko harus diberi kesempatan, paling nggak ya menunggu hasil PK 2 turun. Tapi ya apa daya, lha wong kami mau ngomong aja sudah nggak boleh,” katanya.

Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang, Agus Slamet Riyanto, meminta para pedagang Kanjengan bersabar dengan legowo mau menempati tempat relokasi di kawasan MAJT.

“Kalau kita bersama-sama, maka beban berat pedagang dalam mencari pelanggan baru di relokasi bisa lebih ringan,” ujarnya.

Pihaknya mengaku paham terhadap apa yang dirasakan pedagang Kanjengan. Tentu relokasi tidak mengenakkan. Tetapi hal itu harus dilakukan demi kepentingan yang lebih besar. “Makanya butuh kebersamaan, bila kita bersama-sama pindah bareng di tempat yang sudah disediakan pemerintah, pasti beban berat akan menjadi ringan,” katanya.

Dikatakan, bangunan Kanjengan yang mangkrak dan kumuh akan segera dibongkar. Bangunan tersebut ke depan jelas akan lebih baik, agar bisa menyejahterakan pedagang.

“Kalau pedagang merasakan ada fasilitas relokasi yang kurang pas bisa dibenahi. Kami dengan senang hati akan membantu apa kekurangannya, nanti diprioritaskan,” ujarnya.

Pihaknya meminta para pedagang Kanjengan segera menempati Blok F di kawasan MAJT. “Pelanggan secara otomatis akan mencarinya, sebab semua pedagang sudah direlokasi ke MAJT. Kita bersama-sama perlu bersabar di tempat penampungan. Ini demi pembangunan Pasar Johar Baru bisa berjalan lancar,” katanya. (amu/aro)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -