Film Karyanya Akan Diputar di Bangladesh dan Jerman

Syaikhu Luthfi, Sutradara Kampus UIN Walisongo yang Go International

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Meski bukan dari sekolah film, keuletan Syaikhu Luthfi telah mengantarkan prestasinya di kancah internasional. Terbukti, karya mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negari (UIN) Walisongo Semarang ini,  masuk kategori film terbaik ketiga di Oenge Festival Film 2017 dan nominator film terbaik kategori film non fiksi di Toraja Film 2017. Seperti apa?

IQBAL SHAMIAGO

BAGI Syaikhu, pencapaiannya bisa memasuki kancah dunia internasional kali ini, benar-benar di luar ekspektasinya. Syaikhu yang belajar film secara otodidak, hanya berusaha tekun dan ulet menekuni hobinya.

“Saya bukan orang film, bukan pula orang yang kuliah di jurusan film. Belajar film secara otodidak. Saya sangat bersyukur dan sangat terkesan, ternyata karya saya bisa bersaing dengan para filmaker profesional maupun para mahasiswa perfilman,” tutur putra pasangan Hj Asfiyah dan Almarhum H Muslih ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Karya Syaikhu berjudul Mbobot atau versi internasonal berjudul The Grey Heritage, merupakan kategori film terbaik ke-3 di Oenge Festival Film 2017, dan nominator film terbaik kategori film non fiksi di Toraja Film 2017.

“Sungguh sangat berkesan dalam hidup saya, selama belajar sebagai sutradara kampus. Alhamdulillah, film terbaru saya berjudul Mbobot atau The Grey Heritage mendapatkan apresiasi luar biasa. Masuk kategori film terbaik ke-3 di Oenge Festival Film 2017, dan nominator film terbaik kategori film non fiksi di Toraja Film 2017,” tutur Syaikhu

Syaikhu mengatakan, film Mbobot rencananya akan go international pada September 2017 mendatang. Film Mbobot ini akan diputar di Asian University for Women Bangladesh dan di FIKTIVA Madienkunts Festival Dusseldorf, Jerman. “Ini kebanggaan luar biasa bagi kami,” ujar Syaikhu penuh syukur.

Ternyata prestasinya tersebut tidak lepas dari tekadnya meniru sang idola. Yakni, sutradara baik di dalam dan luar negeri yang dia jadikan kiblat. Mulai dari Sidney Lumet, Stephen Spielberg, dan Cristoper Nolan. Kalau dalam negeri, adalah Garin Nugroho. “Bagi saya, idola adalah barometer dalam menggapai cita-cita,” tandasnya.

Syaikhu memandang, film adalah seni sekaligus edukasi. Bahkan, film bisa dibilang kesenian yang paling kompleks, karena semua ilmu yang ada, bisa masuk. Misalnya  yang suka bisnis, bisa jadi produser. Yang suka manajemen bisa jadi unit manager. Yang suka akting bisa jadi artis/aktor. Yang suka menulis bisa jadi penulis skenario, dan yang bisa memimpin dan menyutradarai bisa jadi sutradara.

“Saya sendiri, karena saya dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo, sebisa mungkin saya mengomunikasikan pesan-pesan dakwah melalui media film agar mudah diterima masyarakat,” ujar mahasiswa kelahiran Semarang, 25 Agustus 1994 ini.

Karena itulah, dia memiliki harapan besar mengenai kemajuan perfilman di tanah air. “Semoga dunia perfilman Indonesia ke depan, bisa lebih maju dan beragam, baik itu dari segi industri, isu yang diangkat, kesadaran penonton, dan teknologi yang lebih maju,” harapnya.

Lebih dari itu, Syaikhu berharap karirnya ke depan tetap berada di bidang perfilman. ”Sesuai apa yang saya jalankan sekarang, InsyaAllah akan terjun di seni audiovisual. Entah itu film ataupun televisi,” ujarnya.

Bahkan dukungan orang tua sudah ia kantongi. “Sebagai orang tua, saya sangat bangga dan mendukung aktivitas Syaikhu dalam menggapai cita-citanya. Apapun yang baik buat anak, pasti saya dukung,” ujar Asfiyah, ibunda Syaikhu.

Tak hanya orang tua, sang dosen di UIN Walisongo, Amelia Fahmi, juga mengapresiasi prestasinya.

“Kami bagian dari civitas akademika kampus, sangat bangga dan mengapresiasi prestasi yang didapatkan oleh mahasiswa kami dalam dunia perfilman,” ujar dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam ini. (*/ida)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -