Pedagang Pungkuran Siap Boyongan ke MAJT

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

SEMARANG Ratusan pedagang Pasar Pungkuran kompleks Kanjengan mendatangi tempat relokasi kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)  pada Sabtu (26/8) malam menjelang dinihari.  Didampingi Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, mereka mengecek lokasi untuk segera pindahan dan berjualan di tempat penampungan MAJT Blok F.

Seperti diketahui, pedagang Pasar Pungkuran Kanjengan ini merupakan kelompok pedagang eceran atau pancakan berbagai kebutuhan pokok rumah tangga. Mereka sudah  menerima direlokasi ke MAJT. Sedangkan kelompok lain yang menolak relokasi adalah warga Kanjengan yang rata-rata memiliki toko emas.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Pungkuran Kanjengan, Sukarno, menjelaskan, ada dua kelompok pedagang di kawasan Kanjengan. “Pedagang Pasar Pungkuran ini dulu lokasinya di bawah gedung parkir Kanjengan. Kadang-kadang banyak yang belum tahu (Pasar Pungkuran), padahal dulu disahkan oleh DPRD Kota Semarang. Pedagang lho, bukan warga Kanjengan. Di sana memang ada dua kelompok, yakni pedagang Pungkuran Kanjengan dan warga Kanjengan (pedagang emas),” jelas Sukarno.

Pihaknya bersama para pedagang menyatakan telah menerima keputusan pemerintah mengenai relokasi di kawasan MAJT tersebut. ” Bangunan Kanjengan akan segera dibongkar, maka teman-teman cepat atau lambat harus pindah ke sini. Relokasi ini bersifat sementara. Nanti akan dibangun tempat relokasi yang lebih besar di sana (selatan relokasi Pasar Johar MAJT). Makanya di sini tempatnya kecil-kecil, bisa dikatakan tidak layak,” katanya.

Sukarno bersama pedagang Pasar Pungkuran Kanjengan telah melakukan rapat koordinasi. Hasilnya sepakat akan pindah ke tempat relokasi yang disediakan pemerintah di Blok F. “Malam ini (kemarin) kami sama-sama datang mencari tempat. Untuk mengetahui ‘saya dapat di mana sih?’ karena memang ada yang belum tahu. Meskipun sebagian ada yang sudah tahu,” ujarnya.

Dijelaskan Sukarno, pihaknya mengaku telah melakukan koordinasi dengan Kepala Dinas Perdagangan dan diberi waktu hingga Sabtu kemarin. “Harus sudah ACC dengan lingkungan pedagang di tempat relokasi MAJT. Kalau lingkungan nggak boleh ya harus laporan dengan kepala pasar atau petugasnya. Nanti dicarikan tempat lain,” bebernya.

Dikatakan, kendala yang dikeluhkan pedagang saat ini mengenai luasan kios yang hanya 2 x 1,5 meter persegi. “Nanti kalau pembangunan relokasi tahap dua sudah selesai dibangun, semua bisa pindah di bangunan baru (selatan Blok F). Informasinya relokasi tahap dua itu dibangun di lahan seluas 2,4 hektare, diperuntukkan khusus untuk pedagang Pasar Pungkuran Kanjengan dan Pasar Yaik Baru. Jumlah pedagang lebih dari 800 orang, mereka adalah pedagang berbagai macam kebutuhan rumah tangga,” terangnya.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, mengatakan, kurang lebih 600 pedagang Kanjengan akan menempati tempat relokasi di Blok F kawasan MAJT.

“Sebetulnya sejak 3 minggu lalu, kami sudah menata tempat, karena jumlahnya banyak tidak mungkin bisa langsung kami tempatkan. Maka kami berikan interval waktu, pedagang yang belum dapat kios segera menemui saya di Dinas Perdagangan mulai besok Senin (hari ini). Pedagang yang belum memperoleh tempat, dia harus aktif mengurus. Saya batasi sesuai kesepakatan dengan paguyuban pedagang, semua harus sudah masuk pada 4 September. Sehingga ini berjalan lancar,” terangnya.

Dijelaskan, kios di tempat relokasi pasti ukurannya terbatas. Pedagang sendiri maunya luasan kios 5 x 5 meter persegi sesuai di tempat mereka di Kanjengan. “Ini kan relokasi sementara, disesuaikan dengan kondisi yang ada. Tugas saya itu menata, mengarahkan dan membina pedagang, itu saja. Kami juga minta pedagang yang sudah menempati di sini bisa saling membantu. Karena untuk pedagang pancakan ini jam operasionalnya berbeda, mereka jualan mulai pukul 23.00 hingga pukul 07.00. Sedangkan untuk pedagang kios mulai pukul 08.00 hingga sore. Tapi kalau pedagang kios mau buka terus ya silakan. Program pasar tradisional itu ya siang malam ramai,” katanya.  (amu/aro)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -