Lokasi Bersejarah Tragedi Kampung Tulung Terancam Hilang (2-Habis)

Kursi dan Dipan Bung Karno

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Selain lokasi dan bangunannya yang bersejarah, sejumlah benda di dalam rumah yang dulu merupakan dapur umum perjuangan tentara republik dan warga Magelang di Kampung Tulung, juga menyimpan nilai sejarah.

KURSI dan dipan itu tampak lusuh. Warna pliturnya kusam. Coretan di sana-sini, semakin memperlihatkan furnitur di rumah Woro Indarti, cucu Atmo Prawiro, Lurah Kampung Tulung, tidak terawat. Bantalan busa sebagai dudukan kursi apalagi. Warnanya sudah memudar. Tidak lagi bersih. Pun, kasur tipis di atas dipan bolong.

Padahal, di kursi lusuh itulah, Presiden (pertama) RI, Bung Karno, pernah duduk. Tepatnya, pada 2 November 1945. Waktu itu, Bung Karno dilobi oleh tentara sekutu untuk datang ke Magelang, melakukan perundingan genjatan senjata. Penyebabnya, pada waktu itu, tentara sekutu kewalahan menghadapi serangan tentara republik dan rakyat Magelang.

Karenanya, pemerintah Indonesia dipimpin Presiden Soekarno dan pasukan sekutu dipimpin Jenderal Bethel, melakukan perundingan di Bada’an. “Nah, setelah perundingan, Presiden Soekarno mengunjungi Kampung Tulung dan melihat kondisi kelurahan atau dapur umum yang pada 29 Oktober 1945 diserang tentara Jepang dan menewaskan 42 pejuang dan rakyat sipil,” kata Abak Raflin, seorang mantan pejuang, warga Kampung Tulung RW II, Kelurahan Magelang, Magelang Tengah Kota Magelang.

Kepada Jawa Pos Radar Kedu, Woro membenarkan bahwa kursi tamu di rumahnya merupakan kursi yang dulu pernah diduduki oleh Bung Karno. Selain Bung Karno, kursi lainnya diduduki Ahmad Yani (pada 1965, A. Yani berpangkat Letjen dan menjadi salah satu korban G 30 S/PKI) komandan tentara republik yang pada waktu itu memimpin penyerangan. “Memang bentuk kursi sudah kami ubah. Dulu cuma beralaskan rotan, sekarang kami ganti bantalan busa,” kata Woro.

Selain kursi, kata Woro, dipan di rumahnya juga sempat menjadi tempat istirahat Bung Karno, meski hanya sebentar. “Dipan itu dulu juga pernah kena tembak oleh senapan tentara Jepang. Itu bekasnya masih ada,” kata Woro sembari meminta wartawan koran ini untuk memeriksanya. Ternyata benar. Dipan itu bolong, akibat tertembus peluru. “Banyak sekali benda-benda yang mengandung sejarah di rumah ini,” ucap Woro didampingi suaminya, Dovian Widarto.

Bagaimana dengan keberadaan tugu Kampung Tulung? Woro mengenang, dulu ketika tugu itu hendak dibangun, ayah Woro sempat menolak. Sebab, warga menginginkan tugu dibangun persis di depan rumah yang dulu merupakan lokasi dapur umum. “Bapak ngomong, mosok tempat tinggal depannya ada tugu. Jadi, akhirnya disepakati tugu peringatan Kampung Tulung dibuat di pintu masuk Kampung Tulung.” Alasan lain, ayah Woro tidak ingin keturunannya kelak terus-menerus mengingat peristiwa tragis tersebut.

Karena bermukim di lokasi bekas pembantaian, Woro membenarkan bahwa banyak peristiwa ganjil yang sulit dinalar, terjadi di rumahnya. “Ya, kadang terdengar derap langkah tentara dan jeritan-jeritan. Kemudian bagian belakang dekat dapur, seringkali keramik pecah amblas. Bolak-balik kami perbaiki, selalu pecah. Pada waktu tertentu juga tercium bau cukup anyir,” ucap Woro.

Woro menjelaskan, ketika rumah kakeknya jadi lokasi dapur umum pada 1945, Lurah Atmo Prawiro sudah mengantisipasi risiko yang bakal dihadapi. “Waktu itu kakek punya pandangan bahwa jika rumahnya dijadikan sebagai dapur umum, maka akan membahayakan kehidupan keluarga. Karenanya, kakek mengungsikan semua keluarga ke Bandongan. Sehingga ketika terjadi penyerangan pasukan Kidobutai pada 29 Oktober 1945, semua keluarga kakek selamat.”

Ketika itu, Lurah Atmo Prawiro juga lolos dari tembakan pasukan Jepang, karena tubuhnya tertindih mayat-mayat tentara dan warga yang tewas diberondong senapan Kidobutai. Di bawah tumpukan mayat, Lurah Atmo lolos dari maut dan melarikan diri ke Bandongan.

Ketika sang kakek menjadi lurah, Woro menuturkan, warga yang bermaksud menghadap Atmo Prawiro, mengenakan pakaian adat Jawa dan duduk bersimpuh. “Karena pada waktu itu, kedudukan lurah cukup terhormat, seperti pejabat tinggi. Ya mungkin seperti raja kecil, begitu.”

Seperti diberitakan koran ini kemarin, Woro Indarti menyampaikan keinginannya untuk menjual rumah dan tanah yang kini ditempatinya. Ia dan suami berinisiatif menawarkan rumah warisan Atmo Prawiro kepada Pemkot Magelang. “Yang pertama kami tawarkan adalah Pemkot Magelang. Pandangan kami, jika diambil alih oleh Pemkot, maka nantinya nilai sejarah rumah ini akan terpelihara. Coba kalau rumah ini jatuh ke orang lain yang tidak tahu nilai sejarah? Pastinya rumah ini akan dibongkar total atau rata tanah dan dibangun bangunan baru,” kata Woro.

Woro enggan menyebut tawaran itu sebagai jual beli. Melainkan, sebagai tawaran pemeliharaan bangunan bersejarah. “Kami secara pribadi menawarkan rumah ini untuk dimahar sebesar Rp 3 miliar. Jangan memandang nilai rupiahnya, tapi memandang nilai sejarah dari rumah ini, agar tidak hilang. Sebenarnya, dengan luas tanah yang cukup luas, harga tersebut sudah sesuai nilai yang ada.”

Woro menegaskan, langkah yang ia tempuh, bukan upaya untuk mengambil keuntungan. Melainkan, upaya menyelamatkan nilai sejarah rumah tersebut. Sebab, tutur Woro, kondisi kesehatannya semakin drop. Keturunan Atmo Prawiro juga kemungkinan tidak bisa mewarisi nilai-nilai sejarah dalam rumah tersebut.

“Jika nanti dibeli oleh Pemkot, maka nilai sejarah rumah ini akan terus dijaga. Bahkan, jika nanti rumah ini bisa menjadi milik Pemkot, kami pihak keluarga tidak keberatan bagian depan pendopo maupun bangunan lain dibongkar untuk mengembalikan ke bentuk aslinya.” (cr3/isk)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -