Jateng Gagal Optimalkan Potensi

470
Logo Pemprov Jateng
Logo Pemprov Jateng

SEMARANG – Pilgub Jateng 2018 mendatang boleh dibilang momentum penting untuk memilih gubernur yang mampu membawa Jateng ke arah lebih baik. Banyak masukan dari akademisi mengenai pembangunan yang seharusnya dilakukan agar Jateng berkembang secara optimal.

Hal itu diulas dalam seminar “Masa Depan Baru Jateng” di Kampus 2 Universitas PGRI Semarang, kemarin. Gelaran hasil kerja bareng Badan Kajian Strategis dan Institut Harkat Negeri (IHN) tersebut mengundang sejumlah akademisi dari sejumlah perguruan tinggi ternama di Jateng.

Salah satunya dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Lukman Hakim. Dia mengatakan, menurut Howard Dick, wilayah di Jawa yang berhasil menjadi daerah yang disebut sebagai ‘Pembangunan Berimbang’ adalah Jatim. Jateng dan Jabar tergolong  gagal memaksimalkan potensinya menjadi Pembangunan Berimbang. Sebab tidak menemukan strategi pembangunan yang jelas dalam merespons keadaan geografis yang ada.

Kelambatan dalam membuat politik jalan lanjutnya, membuat interkoneksi Jateng agak tersendat. Terlalu lamanya pembangunan jalan tol Semarang-Solo merupakan salah satu bukti bahwa politik jalan kurang berhasil. “Indikator lain adalah matinya banyak perusahaan otobus seperti jurusan Jogjakarta-Semarang, Jogjakarta-Solo, dan kemudian disi oleh angkutan dari Jatim,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi infrastruktur di Jateng juga perlu segera dibenahi. Sebab, meski DPRD sudah menaikan anggaran dari Rp 300 miliar menjadi Rp 500 miliar, tapi belum mampu meningkatkan kualitas infrastruktur Jateng dibanding dengan provinsi-provinsi yang ada di Jawa.

Dari segi tata kelola pemerintahan, Lukman menilai, kurangnya komitmen pemerintah, ditandai dengan anggaran yang masih lemah. Selama ini anggaran yang berkonsentrasi pada peningkatan sumber daya manusia seperti pendidikan tergolong sangat kurang.

Pada kesempatan itu, dia juga menyinggung mengenai sesuatu yang hilang pada kepemimpinan Jateng. Yaitu kepemimpinan yang nguwongke. “Padahal sikap nguwongke atau sikap empati yang melahirkan solusi kreatif. Karena itu dibutuhkan gubernur yang empati terhadap nasib rakyat, dan memberikan solusi kreatif yang menyebabkan seluruh masyarakat mau begerak,” bebernya.

Asisten Direktur Pascasarjana STAIN Kudus, Abdul Jalil yang juga menjadi pembicara, menambahkan, untuk menciptakan sebuah tatanan baik, butuh sebuah tatanan yang berjalan secara jujur, egaliter, transparan dan demokratis. Masing-masing tidak jatuh dan terperangkap pada pemaksaan kehendak, merasa paling benar, paling berkuasa, kebal kritik dan sikap-sikap destruktif lainnya.

Menurutnya, pemimpin sejati jelas selalu melek. Yaitu melek batin yang ditandai dengan moralitas, integritas, dan karakter yang relatif tak tercela. Melek budi atau tak pernah bosan menginvestasikan waktu, uang, dan seluruh hidupnya untuk mengejar ilmu pengetahuan, mencari informasi, mengumpulkan fakta, data, dan informasi, belajar dari sejarah tentang segala sesuatu yang terkait dengan rakyatnya. Dan yang terakhir adalah melek indrawi. (amh/ric)