Terkendala Biaya dan Data Keuangan Internal

468

SEMARANG – Potensi perusahaan di Jawa Tengah untuk menjadi emiten dinilai cukup besar. Namun hingga saat ini baru empat perusahaan yang sudah melakukan Initial Public Offering (IPO) dan go public menjadi perusahaan terbuka.

Deputi Direktur Penilaian Perusahaan Sektor Jasa Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muhammad Maulana mengatakan, pihaknya terus mendorong perusahaan untuk go public agar meningkatkan sumber pembiayaan sebagai modal.

Namun demikian, diakuinya dalam proses go public memang dibutuhkan biaya. Ia memperkirakan sekitar 2-5 persen dari emisi atau upaya perusahaan untuk memperoleh dana dari masyarakat melalui pasar modal.

“Biaya yang harus dikeluarkan perusahaan calon emiten tergantung besar kecilnya perusahaan tersebut. Serta banyak sedikitnya jumlah dana yang akan diperoleh dari bursa,” ujarnya dalam Semarang Business Forum bertema Strategi Mendapatkan Dana dengan Mudah di Pasar Modal untuk Optimalisasi Pertumbuhan Perusahaan yang digelar Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Semarang di kantor OJK Jateng-DIJ.

Biaya tersebut mencakup berbagai proses. Jika dana yang ingin diraup dari pasar modal cukup kecil, maka biaya yang dikeluarkan perusahaan terasa besar. Begitu juga sebaliknya. “Ya kisaran sampai 5 persen dari emisi, biaya untuk go public. Tapi ke depannya perusahaan itu akan lebih sehat dengan mendapatkan modal dari masyarakat,” ujarnya.

Supervisor Representatif BEI Kantor Perwakilan Semarang, Fanny Rifqi El Fuad menambahkan, perusahaan yang melakukan go public di Jawa Tengah hingga saat ini belum ada penambahan, namun cukup banyak peminatnya.

“Dari sisi minat sebenarnya ada beberapa perusahaan. Diantaranya bergerak di bidang properti, manufaktur dan makanan. Tapi memang mereka masih harus merapikan keuangan internal dan mengkonsolidasikan anak perusahaan. Sehingga saat go public sudah bagus dan rapi. Maka nilai tawar mereka akan tinggi,” imbuhnya.(dna/bas)