Pakai Teknologi Bore Pile Butuh Rp 150 Miliar

Penanganan Tanah Bergerak di Jalan Pawiyatan Luhur

420

SEMARANG-Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang saat ini sedang berupaya mencari solusi untuk penanganan masalah infrastruktur jalan amblas karena  tanah bergerak. Salah satunya adalah di dekat Kampus Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang, Jalan Pawiyatan Luhur, Bendan Duwur, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang.

Berkali ulang, jalan tersebut dilakukan perbaikan pembangunan, tapi kondisi jalan kembali rusak dan bergelombang. Bahkan menggunakan cor sekalipun tak mampu bertahan lama.

Sejauh ini, DPU Kota Semarang telah melakukan kajian dengan melibatkan para ahli untuk menemukan solusi terkait penanganan khusus mengenai permasalahan jalan dengan karakteristik tanah bergerak seperti di Jalan Pawiyatan Luhur tersebut.

“Sebetulnya, selama ini kami sudah melakukan kajian, yakni menggunakan teknologi bore pile dengan kedalaman tertentu. Sesuai hasil penelitian kami menggunakan geolistrik, sudah ditemukan titik terjadinya geseran di bawah tanah,” kata Kepala DPU Kota Semarang, Iswar Aminudin kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (23/9) kemarin.

Namun persoalannya mengenai biaya yang terlalu mahal. Yakni membutuhkan biaya kurang lebih Rp 150 miliar dengan bentang kurang lebih hanya 100 meter. “Ini biaya yang tidak ringan, tentu membebani anggaran APBD Kota Semarang. Untuk itulah, kami berinisiatif melibatkan para ahli dari berbagai perguruan tinggi untuk mencari alternatif solusi lain. Ini mau diapakan, tentunya masukan para ahli ilmu mekanika tanah bisa menemukan solusi lain. Sehingga bisa lebih meringankan APBD,” kata Iswar.

Para ahli ilmu mekanika tanah sudah dikumpulkan beberapa hari lalu di Dinas PU Kota Semarang. “Kami sedang berusaha mengatasi bagaimana masalah pergeseran tanah di Jalan Bendan Duwur sekitar Kampus Untag hingga Kampus Unika. Sehingga akibat pergeseran tanah tersebut membuat kondisi jalan bergerak atau mengakibatkan lengkungan yang membahayakan pengendara,” katanya.

Iswar menjelaskan, kajian yang dilakukan pihaknya sebelumnya sudah melibatkan konsultan dan para ahli. Sehingga menemukan angka biaya Rp 150 miliar tersebut. “Sudut geser tanah ditemukan berada di 100 meter kedalaman tanah. Ini memang kalau dibiarkan bukan hanya jalan yang rusak, tetapi bangunan-bangunan juga sangat rawan,” katanya.

Sementara ini, lanjut dia, teknologi yang digunakan adalah bore pile seperti dalam pembangunan jalan tol. “Kami berharap ada alternatif teknologi lain mungkin angkur-injeksi atau lainnya. Tapi kami masih meragukan tingkat keberhasilannya. Biar para ahli mengkaji seperti apa,” katanya.

Dia berharap, pertemuan para ahli tersebut bisa segera memperoleh solusi alternatif, kemudian ditindaklanjuti oleh DPU Kota Semarang. “Kalau memang sudah keluar angka kebutuhan biaya, segera kami ajukan penganggaran pada 2018. Apabila tidak bisa sekarang, apa boleh buat, masuknya ya di penganggaran 2019,” katanya.

Permasalahan karakteristik tanah bergerak di Jalan Pawitan Luhur itu, diakuinya, cukup merepotkan masyarakat. Selain membahayakan pengendara yang melintas, bangunan-bangunan di sekitar kawasan tersebut rawan terjadi longsor. “Saya kira, Kampus Unika dan Untag sudah merasakan masalah pergeseran tanah di kawasan tersebut. Bahkan di Unika ada bangunan yang baru saja selesai dibangun sudah ada retakan,” katanya.

Wakil Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang, Wachid Nurmiyanto mengatakan beberapa titik jalan yang memiliki karakteristik tanah bergerak seperti di Jalan Pawiyatan Luhur, Sadeng, dan Jatibarang, telah berkali-kali dibahas. “Jalan tersebut merupakan jalan yang menjadi tanggung jawab oleh Pemkot Semarang. Kalau itu mendesak untuk segera dikerjakan ya, segera direncanakan proses pengganggaran hingga pelaksanaannya,” katanya.

Menurutnya, terkait penanganan karakteristik tanah yang bergerak hanya masalah teknis saja. “Kalau ditangani serius, hal itu pasti bisa disiasati. Tinggal menggunakan teknologi seperti apa,” katanya.

Jika diperlukan, pihaknya menyarankan untuk memanfaatkan teknologi konstruksi jalan. “Kalau tanahnya bergelombang dan banyak sekali terjadi pergerakan tanah, harus ada semacam tiang pancang di bagian bawah. Itu menjadi titik tumpu sebagai penyangga. Sehingga ketika tanah bergerak, jalan tersebut tidak akan bergerak. Harus ada produk teknologi untuk menangani kondisi tanah yang bergerak. Bisa juga dibuatkan talud yang super kuat atau bagaimana mestinya tetap bisa. Sehingga tanah tidak bergerak,” katanya. (amu/ida)