Revitalisasi Lima Nilai Karakter Bagi Siswa dan Guru

1053
Oleh: Moeria Erry Miesmiarini SPd
Oleh: Moeria Erry Miesmiarini SPd

MEWUJUDKAN cita-cita masa depan suatu bangsa sangat bergantung kepada generasi muda saat ini. Pengaruh globalisasi, internet, teknologi dan budaya sangat besar. Upaya pembentukan karakter pada dunia pendidikan menjadi solusi utama pembangunan karakter yang kuat. Penanaman karakter sudah mulai ditekankan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dimuat dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Sayangnya, karakter positif yang diharapkan tumbuh masih sebatas tulisan.

Pemerintah melalui Kurikulum 2013 yang merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari KTSP menekankan konsep pendidikan karakter pada aspek religi, sikap/sosial, pengetahuan dan keterampilan. Namun harapan untuk mencetak generasi muda yang bermoral dan berahklak mulia masih sulit diwujudkan. Berdasar  pengamatan dan fakta lapangan, dapat disimpulkan bahwa nilai karakter belum diimplementasikan pada saat proses pembelajaran.

Untuk menunjang keberhasilan perlu dilakukan revitalisasi pendidikan karakter, baik guru, siswa dan warga sekolah lainnya. Setidaknya ada lima nilai karakter yang sangat dominan dan perlu direvitalisasi, yakni sikap jujur, santun, peduli, disiplin, dan sungguh-sungguh.

Jujur, merupakan perilaku atau sikap yang sesungguhnya, dan apa adanya. Sebagai pendidik kita sering mendengar, bahkan kita mungkin juga pernah mengucapakan “jujur ajur” (jujur itu hancur). Itu adalah contoh bahasa lisan yang menyesatkan. Bagaimana tidak, jika siswa sudah mempunyai mindset seperti itu tentu enggan untuk berperilaku jujur. Misalnya, kebiasaan mengerjakan  ulangan dengan mencontek, berbohong, dan sebagainya. Ketidakjujuran perlu dibenahi oleh pendidik dengan mengubah mindset mereka dengan cara mengimplementasikan pada materi pembelajaran secara terus-menerus.

Punishment

Dalam ulangan, guru harus lebih tegas melarang siswa mencontek atau bekerja sama dan memberikan punishment bagi siswa yang melanggar. Cara lain untuk mempraktikkan karakter jujur adalah dengan membuka kantin kejujuran. Siswa akan berlatih untuk berbuat jujur tanpa diawasi oleh guru ataupun pengelola kantin. Siswa membeli, mengambil, menaruh uangnya di kotak  bahkan mengambil kembalian sendiri dengan benar. Dari pengalaman mereka berperilaku jujur, akan menjadikan mereka anggota masyarakat yang jujur pada masa depan.

Santun, kerapkali dikaitkan dengan tutur kata dan tingkah laku yang baik dan halus atau yang sering disebut tata krama/unggah-ungguh. Bangsa Indonesia dikenal dengan adat ketimurannya yang ramah dan santun. Namun hal itu mulai tergerus oleh modernisasi, hingar-bingar dunia gadget sehingga nilai-nilai luhur bangsa mulai luntur. Contoh di lingkungan siswa adalah kebiasaan berbicara kasar, suka menuduh, menghasut bahkan menyakiti teman.

Unggah-ungguh basa perlu diajarkan melalui mata pelajaran Bahasa Jawa dan PAI (pendidikan agama Islam) agar tertanam karakter yang baik dalam berkata dan bertingkah laku. Pembiasaan di sekolah waktu pagi dan siang hari ketika datang pulang sekolah dengan senyum, sapa, salam perlu terus dilakukan agar siswa terbiasa bertata krama yang baik.

Peduli merupakan tindakan yang didasari pada keprihatinan terhadap masalah orang lain. Mungkin kita pernah menyaksikan seorang pemuda gagah yang membiarkan ibu hamil berdiri di bus umum. Apabila kalau kita punya nurani dan rasa empati,  kita akan lebih menghargai orang yang lebih tua atau orang yang lebih membutuhkan bantuan, maka kita akan berbagi tempat duduk. Fakta di atas merupakan contoh pelanggaran norma yang seharusnya tidak tejadi manakala nilai karakter ditanamkan sejak dini.Penanamkan karakter peduli di sekolah, misalnya menjenguk teman sakit, menyemangati, dan membantu teman yang membutuhkan.

 Disiplin, merupakan serangkaian perilaku yang taat, patuh, dan tertib. Disiplin utama siswa di sekolah antara lain: disiplin waktu, patuh terhadap tata tertib sekolah, dan disiplin dalam mencapai target tertentu.

Sungguh-sungguh, artinya melakuakn aktivitas secara maksimal. Pepatah Arab mengatakan, Man Jadda Wa Jadda , barang siapa yang bersungguh-sungguh maka akan berhasil. Pendidikan karakter bukanlah pelajaran yang berdiri sendiri sebagai suatu pelajaran melainkan nilai yang ada pada sendi kehidupan. Dengan melaksanakan revitalisasi lima nilai karakter diharapkan, siswa dapat sukses mewujudkan cita-cita. Semoga. (*/aro)