Kembalikan Jateng sebagai Tulang Punggung Republik

571
OPTIMISTIS: Bakal Calon Gubernur Jateng Sudirman Said (baju batik) saat hadir dalam Rakorda Partai Gerindra Jateng, kemarin (JPG).
OPTIMISTIS: Bakal Calon Gubernur Jateng Sudirman Said (baju batik) saat hadir dalam Rakorda Partai Gerindra Jateng, kemarin (JPG).

SEMARANG- Bakal calon Gubernur Jateng, Sudirman Said, menegaskan, jika dipercaya memimpin Jateng, ia akan mengembalikan peran Jateng sebagai tulang punggung republik. Caranya, dengan menjadikan provinsi ini maju, mandiri, dan bermartabat.

Sudirman meyakini hal itu dapat diwujudkan, karena Jateng memiliki banyak potensi, dan kesempatan untuk maju dan berkembang setara dengan provinsi-provinsi lainnya. Yang dibutuhkan Jateng saat ini adalah pemimpin yang memiliki kapasitas, berani, dan kreatif  untuk melakukan terobosan guna mendayagunakan potensi yang ada.

“Jika dipercaya memimpin Jateng, saya akan mengembalikan peran Jateng sebagai tulang punggung republik,” tandas Sudirman di hadapan ratusan pengurus cabang Partai Gerindra se-Jateng di kantor DPD Partai Gerindra Jateng, Minggu (24/9).

Sudirman menyampaikan, sejak dahulu Jateng telah menjadi tulang punggung republik. Tanpa Jateng, republik ini tidak akan tegak berdiri. Kerajaan-kerajaan Hindu, Budha, hingga Islam banyak sekali meninggalkan warisan, yang menandakan tingginya peradaban di Jateng.

Dua candi besar Prambanan dan Borobudur ada di Jateng.  Interaksi budaya dengan Timur Tengah yang membawa masuk agama Islam, dan China yang membuka jalur ekonomi bermula dari pesisir Jawa Tengah. Bank pertama lahir di Banyumas. Kemudian bank sentral didirikan di Kebumen oleh kakek dari Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra.

Kemudian tak kurang dari 32 nama Pahlawan Nasional berasal dari Jawa Tengah.  Sekolah tentara pertama ada di Gombong. Sebagian besar jenderal angkatan pertama berasal dari Purworejo, Kebumen, Cilacap, dan Banyumas. “Dan sampai saat ini Magelang menjadi pusat kaderisasi elit.  Jateng masih jadi pemasok elit kepemimpinan nasional,” terang Sudirman.

Dalam kesempatan itu Sudirman memaparkan tujuan dari pembangunan Jateng ke depan, yakni waras, wareg, wasis. Waras (sehat) bermakna pembangunan harus menjadikan masyarakat sehat jasmani dan rohani. Pembangunan tidak hanya akan bertumpu pada pembangunan fisik, tetapi yang lebih penting adalah pembangunan manusia.

Wareg (kenyang) bermakna pembangunan harus memberikan perbaikan taraf hidup bagi sebagian besar rakyat. Warga naik tingkat kesejahteraannya, sehingga jumlah penduduk miskin berkurang secara signifikan. Kemudian wasis (pandai) bermakna menjadikan warga Jateng pandai dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi warga Jateng untuk menikmati bangku sekolah. Sehingga angka partisipasi pendidikan Jateng meningkat.
Lebih lanjut Sudirman memaparkan, dalam kepemimpinannya nanti, dia berpegang pada tiga pedoman, yakni  ngancani, ngladeni, dan ngayomi. Ngancani (menemani) maknanya, pemimpin harus hadir bersama rakyat dalam segala situasi. Hal ini penting karena pemimpin adalah orang tua bagi rakyatnya.

Pemimpin juga harus ngladeni (melayani). Pemimpin adalah pelayan bagi rakyat, bukan sebaliknya, pemimpin minta dilayani.  Terakhir pemimpin harus ngayomi (melindungi) rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin harus bisa menjadi tempat berlindung bagi rakyat yang membutuhkan perlindungan. Perlindungan dari beragam gangguan dan bahaya, baik yang datang dari luar maupun dari dalam. Perlindungan bisa bermakna luas, perlindungan dalam berusaha, bekerja, menuntut ilmu, termasuk melindungi yang lemah agar tidak dimangsa pihak yang kuat, dan sebagainya. “Jika ini dilaksanakan, maka Jateng akan mampu kita kembalikan perannya sebagai tulang punggung republik,” pungkas Sudirman.(har/aro)