Tepergok Ngamar, Okum Guru Histeris

Ancam Bunuh Diri, Benturkan Kepala

1962
NGUMPET: Anggota DPRD Kota Magelang dan Polwan Polres Magelang Kota tengah menenangkan oknum guru yang terjaring razia pekat, Senin (26/9) malam (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU).
NGUMPET: Anggota DPRD Kota Magelang dan Polwan Polres Magelang Kota tengah menenangkan oknum guru yang terjaring razia pekat, Senin (26/9) malam (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU).

MAGELANG–Jerit tangis histeris mewarnai razia pekat yang dilakukan oleh Tim Gabungan, Senin (26/9) malam, di Hotel Pringgading. Seorang oknum guru perempuan yang tengah ngamar bersama seorang pria, histeris. Menangis sejadi-jadinya. Butuh waktu lama bagi personel Satpol PP, Polres Magelang Kota, dan anggota DPRD yang mengikuti kegiatan razia, untuk menenangkan guru asal Candimulyo, Kabupaten Magelang, itu. Si oknum guru justru mengancam akan bunuh diri. Berulang kali, ia membentur-benturkan kepalanya ke tembok.

Sebelumnya, tim kesulitan saat mencoba membuka pintu kamar tempat oknum guru itu menginap. Hampir setengah jam lamanya, petugas meminta baik-baik kepada yang bersangkutan, agar membukakan pintu. Setelah petugas mengancam akan mendobrak pintu kamar, pria yang bersama oknum guru TK tersebut, akhirnya mau membuka pintu. Namun, petugas tidak menemukan si oknum guru, karena bersembunyi di bawah tempat tidur. Ketika petugas berusaha membawanya, oknum guru itu menjerit sejadi-jadinya, sembari memukuli kepalanya sendiri.

Seorang Polwan yang berusaha menenangkan okum guru tersebut, tidak berhasil. Barulah ketika anggota DPRD Kota Magelang, Iwan Soeradmoko dan Tyas Anggraeni yang ikut dalam kegiatan razia turun tangan, si perempuan bisa ditenangkan.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Magelang, Singgih Indri Pranggana, menjelaskan, kegiatan tersebut berhasil menangkap 7 pasangan dan dua orang tidak membawa identitas. Mereka terpaksa diangkut sejak pukul 21.00-23.30.

“Keenam belas orang itu, kami ciduk di tempat berbeda. Ada di Hotel Pringgading, Ardiva, Barata, karaoke Nav, dan Happy Puppy. Sedangkan untuk salah satu mahasiswi asal Temanggung kami ciduk di Happy Puppy, karena tidak membawa identitas diri.”

Keenambelas orang tersebut didominasi wajah-wajah baru. Dasar razia, kata Singgih, mengacu Perda Nomor 6 Tahun 2017 tentang Ketertiban Umum. “Untuk wajah-wajah baru, kami berikan pembinaan dan membuat surat pernyataan untuk tidak mengulang kembali.” Sedangkan bagi pemain lama, dijerat pasal tindak pidana ringan (tipiring).

Sekretaris Komisi A DPRD Kota Magelang, Iwan Soeradmoko, meminta kepada pihak hotel agar lebih selektif menerima tamu dalam menginap. “Jangan hanya mengejar keuntungan semata, namun tidak memperhatikan aturan. Sebab, yang kami takutkan, jika hotel menerima tamu sembarangan dan ternyata adalah oknum teroris atau kriminal yang sedang transit menginap, sangat berbahaya dan merugikan,” tegas Koko, panggilan akrabnya.

Anggota Komisi A DPRD, Tyas Anggraeni, mengaku prihatin karena kaum perempuan yang terjaring, begitu mudah sekamar dengan pria lain, yang bukan pasangan resminya.

Tyas mengatakan, DPRD Kota Magelang akan terus mendorong Satpol PP untuk terus menggiatkan kegiatan operasi pekat. “Satpol PP sebagai mitra kami, akan terus kami dorong dan support demi menjaga nama baik Kota Magelang. Kita sangat prihatin, ternyata Kota Magelang dimanfaatkan oleh ulah oknum-oknum untuk berbuat asusila.” (cr3/isk)