Model Make-A Match Tingkatkan Membaca Huruf Jawa

1133
Oleh: Sri Hardiyati W SPd
Oleh: Sri Hardiyati W SPd

MEMBACA merupakan salah satu aktivitas yang wajib dilakukan siswa dan guru. Berhasilnya siswa menyelesaikan tugas atau kewajiban di sekolah ditentukan oleh keterampilan membaca, termasuk membaca huruf Jawa. Dengan demikian, keterampilan membaca yang baik menjadi salah satu kunci keberhasilan di dalam pendidikan.

Sejalan dengan gerakan literasi di sekolah, keterampilan membaca dalam pembelajaran Bahasa Jawa menjadi kunci penting.  Salah satu materi atau Kompetensi Dasar (KD) yang masih belum dikuasai siswa, yakni membaca kalimat berhuruf Jawa. Siswa masih mengalami kendala dalam membaca kalimat maupun memahami isi paragraf berhuruf Jawa. Tak sedikit siswa yang merasa kesulitan, dan banyak pula yang bertanya ke teman lain saat mengikuti pembelajaran huruf Jawa.

Selain itu, membaca merupakan kebutuhan keseharian bagi siswa supaya bisa hidup di tengah masyarakat, sehingga tidak buta sastra dan buta aksara. Untuk itulah, para siswa dilatih membaca dengan benar dan tepat. Keterampilan membaca ini tidak bersifat alami, tetapi diperlukan latihan secara rutin dan terus-menerus. Apalagi membaca bacaan yang menggunakan huruf Jawa, siswa harus benar-benar menguasai terlebih dahulu huruf Jawa dan tetap harus berlatih sungguh-sungguh.

Kenyataan dalam pembelajaran kompetensi membaca huruf Jawa belum berhasil dengan maksimal. Partisipasi dan respons siswa dalam memanfaatkan kesempatan membaca huruf Jawa masih kurang ketika ada penawaran dari guru. Sebagian besar siswa cenderung tidak memanfaatkan peluang membaca huruf Jawa, karena merasa takut dan malu jika salah membaca. Ada juga yang hanya diam atau tidak merespons karena tidak mengenal huruf Jawa sama sekali. Tulisan berhuruf Jawa ini dianggap sebagian besar siswa sebagai materi yang sulit, sehingga siswa merasa enggan untuk mempelajarinya. Hal tersebut berdampak terhadap kegiatan membaca terhambat dan tidak sesuai dengan harapan karena kurangnya penguasaan huruf Jawa.

Model Pembelajaran

Penguasaan huruf Jawa yang minim mengakibatkan kegiatan membaca kalimat huruf Jawa pun kurang optimal, sehingga kemampuan siswa belum dapat dikatakan mencapai batas ketuntasan.  Karena itu, motivasi siswa dan rasa percaya diri siswa perlu ditumbuhkan agar pembelajaran membaca huruf Jawa dapat terlaksana sesuai harapan. Guru harus pandai menggunakan model pembelajaran yang tepat dan menarik agar siswa merasa senang, sehingga bersemangat untuk mengikuti pembelajaran tersebut. Dengan demikian, kompetensi membaca huruf Jawa benar-benar tertanam pada semua siswa. Salah satu upaya peningkatan hasil belajar siswa dalam membaca huruf Jawa adalah dengan model pembelajaran make-a match.

Model make-a match disebut sebagai model mencari pasangan. Model make-a match adalah model pembelajaran aktif untuk mendalami atau melatih materi yang telah dipelajari. Setiap siswa menerima satu kartu. Kartu itu bisa berisi pertanyaan atau jawaban. Selanjutnya siswa mencari pasangan yang cocok dan sesuai dengan kartu yang dipegang. Model ini bisa dimodifikasi dan dikembangkan dengan beberapa variasi.

Hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan model make-a match adalah tujuan pembelajaran, persiapan yang diperlukan, dan sintaks atau langkah-langkah kegiatan pembelajaran. Model make-a match ini bertujuan melatih penguasaan materi. Siswa dibekali dengan pengetahuan materi terlebih dahulu. Tujuan berikutnya siswa membekali dirinya sendiri. Siswa aktif menggali materi yang disiapkan guru. Dalam model ini diselingi  teknik mencari pasangan dalam mendalami materi.

Setiap pembelajaran aktif dan inovatif selalu membutuhkan persiapan-persiapan yang baik. Sebelum menerapkan di kelas, guru harus menyiapkan beberapa pertanyaan dan jawaban yang ditulis dalam kartu-kartu yang berbeda warna. Setelah itu, guru dan siswa membuat aturan main yang berisi penghargaan bagi siswa yang berhasil dan sanksi bagi siswa yang gagal. Selanjutnya guru menyediakan lembaran untuk mencatat pasangan yang berhasil dan penskoran presentasi. Persiapan lainnya bisa dengan cara menuliskan kata-kata kunci atau tulisan dari setiap submateri di lembaran-lembaran kertas lalu menyiapkan kertas lain untuk menempelkan lembaran tadi. Selanjutnya menyiapkan kertas HVS untuk menuliskan hasil kerja kelompok.

Adapun sintaks atau langkah-langkah kegiatan pembelajaran model make-a match adalah guru menyampaikan materi dan bentuk kegiatan yang harus dilakukan, guru membagi kelompok menjadi dua, guru membagi kartu, siswa mencari pasangan sesuai kartu yang diterima. Dalam waktu tertentu, yang menerima pasangan berhak mendapatkan skor atau penghargaan, sedangkan yang tidak mendapat pasangan menerima hukuman. Untuk model berikutnya, guru memberikan lembaran kertas materi, siswa menemukan pasangannya untuk membentuk sebuah kelompok. Siswa menyusun materi menjadi utuh dan mempresentasikannya untuk mendapatkan tanggapan dari kelompok lain.

Dalam praktik membaca huruf Jawa, model pembelajaran make-a match dapat dilaksanakan lebih dari satu kali tatap muka. Dalam hal ini siswa menjadi aktif untuk dapat menemukan pasangan kartunya agar mendapat skor dan tidak mendapat hukuman. Kegiatan pembelajaran pun menjadi menyenangkan karena diselingi dengan permainan. Siswa dengan mudah bisa memahami tulisan-tulisan Jawa bersama kelompoknya. (*/aro)