Apoteker Ajak Berantas Peredaran Obat Terlarang

516
TURUN JALAN : Anggota IAI Jateng turun ke jalan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya obat ilegal, Sabtu (30/9) kemarin (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG).
TURUN JALAN : Anggota IAI Jateng turun ke jalan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya obat ilegal, Sabtu (30/9) kemarin (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG–Maraknya peredaran obat terlarang seperti Pil Paracetamol Caffeine Carispodol (PCC), Trihex, Dextro dan lainnya, membuat Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Jawa Tengah gerah. Karena itu, mereka meminta Balai Pengawas Obat dan Makanan (Balai POM), Kepolisian dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng, untuk melakukan pemberantasan dan pengawasan peredaran obat-obat terlarang.

Kepala Balai Besar POM Semarang, Endang Pudjiwati mengatakan bahwa saat ini banyak terjadi penyalahgunaan obat-obat terlarang. Obat yang seharusnya ditebus dengan resep dokter, justru beredar luas di pasaran.

“Obat trihex dan dextro yang merupakan obat untuk penyembuhan, telah disalahgunakan. Padahal sangat berbahaya bagi kesehatan,” katanya di sela aksi turun jalan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya obat ilegal, Sabtu (30/9) kemarin.

Endang berharap dengan adanya kerjasama berbagai pihak dan masyarakat, distribusi obat terlarang yang distribusi lepas dari pengawasan ini, dapat diminimalisasi.

Terpisah Kabag Binopsnal Ditresnarkoba Polda Jateng, AKBP Sunarto, yang datang mewakili Diresnarkoba Polda Jateng mengungkapkan bahwa dari tahun ke tahun, angka penyalahgunaan obat-obat terlarang terus mengalami peningkaran. Tahun 2016 lalu, hanya ada 204 kasus, tahun 2017 ini sudah ada kenaikan 234 kasus. “ Kami sudah melakukan penindakan. Namun angka kasusnya, terus mengalami kenaikan. Sebagian karena faktor ekonomi. Tapi ada orang yang tidak punya kewenangan dan keahlian di bidang farmasi, berani menjualnya,” tuturnya.

Dari jumlah kasus tersebut, banyak kasus yang sudah terungkap dan petugas telah menangkap pelaku peredaran obat-obatan terlarang tersebut. Lebih miris, korban atau pengguna obat terlarang adalah anak-anak, remaja hingga orang yang berusia produktif. “Dengan kerjasama ini, dengan Dinkes, BPOM, Polisi dan IAI, bisa melakukan pengawasan lebih ketat, termasuk mengantisipasi beredarnya pil PCC,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua IAI Jawa Tengah, Djamaluddin mengatakan bahwa pihaknya sengaja melakukan edukasi kepada masyarakat dengan kampanye di beberapa ruas jalan di Semarang, seperti Jalan Piere Tendean, Jalan Pemuda, Tugu Muda, Jalan Imam Bonjol. “Kegiatan longmarch ini, dilakukan sebagai upaya edukasi tentang bahaya obat-obatan terlarang ataupun obat tanpa resep dokter,” tambahnya.

Ia menjelaskan bahwa menurut undang-undang, apoteker yang notabene bergelut dengan obat dan kefarmasian menjadi garda terdepan serta punya tanggung jawab agar obat–obatan yang sampai ke masyarakat memiliki kualitas serta mutu yang baik. “Kami tidak bisa melepaskan diri dengan banyaknya obat ilegal yang beredar. Jadi harus diperangi oleh berbagai pihak,” jelasnya. (den/ida)