Dorong Miliki Ikon Alat Musik Tradisi

639

UNGARAN–Kabupaten Semarang hingga kini belum memiliki alat musik khas tradisi. Anggota Komite Seni Kreatif Dewan Kesenian Kabupaten Semarang (DKKS) Muhammad Fajar Afiatno mengatakan hal itu dikarenakan beberapa wilayah lain sudah memiliki alat musik khas tradisi. “Seperti di Banyumas ada Calung. Dimana alat musik tersebut mirip sekali dengan angklung,” ujar Fajar, Minggu (1/10) kemarin.

Berbeda dengan angklung, lanjutnya, Calung harus dipukul jika ingin membunyikannya. Sedangkan angklung hanya digoyang untuk memperoleh suaranya. Padahal Calung alatnya sangat sederhana, hanya dari bambu yang ide awalnya dari musik khas Jawa Barat yakni angklung. “Kalau kita berani memunculkan ide kreatif, maka musik etnik Kabupaten Semarang bisa jadi ikon tersendiri,” katanya.

Ia sebagai komite seni dalam hal ini mendorong supaya Pemkab Semarang tergerak memikirkan hal itu. Hanya Kabupaten Semarang yang belum memiliki ikon alat musik tradisi. Menurutnya, guna mewujudkan hal tersebut dibutuhkan koordinasi serta sinergi berbagai pihak. Seperti di Salatiga yang sudah dikenal dengan musik drumblek.

Setelah ditelusuri, ternyata jumlah regu drumblek di Kota Salatiga kalah dengan Kabupaten Semarang. Itu dibuktikan dengan merebaknya grup musik itu di Kecamatan Tengaran, Susukan, dan Kecamatan Bawen.

“Kreativitas anak-anak Kabupaten Semarang ngeri. Kalau tidak segera dikritisi dan disikapi, mungkin dari segi alatnya dibuat beda ya akan diklaim bahkan bisa menjadi polemik yang berkepanjangan,” katanya.

Apalagi Fajar juga mengatakan jika belum lama ini musik keroncong dan gamelan sudah banyak ditemui di negara tetangga. Bahkan di Inggris dari kajian para dokter spesialis di sana, membuktikan bila musik keroncong bisa menyembuhkan orang sakit. Maka rumah sakit di Inggris, sekarang aktif menyajikan musik keroncong untuk pasiennya. “Ironisnya di negeri sendiri, saat ini nyetel keroncong telinganya gatal. Nutuk gamelan tangane jare gudiken, ini yang perlu disikapi bersama,” katanya. (ewb/ida)