Tinggal 4 Warga yang Produksi Batik

740

KOTA Semarang memiliki kampung pusat home industry batik, yakni Kampung Batik Gendong, Kelurahan Rejomulyo, Semarang Timur.  Kampung Batik ini berada disamping Bundaran Bubakan atau sebelah timur Jurnatan. Kampung ini memiliki sejarah pada masa penjajahan Jepang. Saat pecah pertempuran lima hari di Semarang sejak 16 Oktober 1945, kampung ini hangus terkena meriam.

“Kampung sini hancur, orang sini pada lari keluar daerah. Ada yang ke Pekalongan dan Lasem,” cerita Ida Purwati, 52, warga Batik Gedong 435,  RW 2 Kelurahan Rejomulyo, Semarang Timur, saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (1/10) kemarin.

Menurut Ketua RW 2 ini, bertahun-tahun pembatik di wilayahnya mati suri. Baru kembali aktif pada masa Pemerintahan Wali Kota Sukawi Sutarip.  “Pada 2006, Bu Sinto (istri Sukawi Sutarip, Red) keliling kampung batik sini, akhirnya dihidupkan lagi. Kini, meluas ke Semarang Timur dan Kota Sematang. Kita dijadikan sentra kampung batik,” jelasnya.

Setidaknya, di Kota Semarang ini sudah banyak ratusan motif batik asli Kota Semarang. Di antaranya, batik blekok, asem arang, warag ngendog, ikan bandeng, lumpia dan Tugu Muda dan Lawang Sewu.

Diakuinya, warga kampung ini sebenarnya sudah banyak yang bisa membatik. Namun jika pesanan banyak, para perajin menggandeng perusahaan batik luar daerah, salah satunya Pekalongan.  “Kalau motif memang asli Semarang. Kalau ada order banyak kita join sama perusahaan luar untuk membuat,” katanya.

Ida mengakui, warga setempat masih terkendala tidak memiliki tempat untuk produksi, mulai tempat penjemuran hingga pembuangan limbah. Sehingga perajin batik yang membuat usaha sendiri hanya dalam kapasitas kecil.

“Yang paling rawan kan pembuangan limbah. Kita tidak punya pengolahannya. Mau dialirkan di mana? Sebab, kalau buang limbah sembarangan nanti dikomplain warga. Yang sudah punya pembuangan sendiri ya Pak Eko,” ujarnya.

Salah satu perajin batik  di kampung itu, Tri Utomo,  menambahkan, saat ini ada 10-an warga setempat yang menjual batik. “Di sini ada 10-an outlet batik. Dari 10 warga itu, 4 penjual dan 6 penjual sekaligus perajin batik.

Menurutnya, pada intinya perajin batik harus memiliki motivasi untuk menciptakan motif  batik baru. Hal ini untuk mengimbangi motif batik baru dari daerah lain. Pihaknya berharap kepada pemerintah tak hanya memberikan ruang pameran, pemkab harus memberikan spirit terkait penciptaan motif batik.(mha/aro)