Gudang Penyimpanan Obat Digerebek

Diduga Tidak Mengantongi Izin

2166
ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG
ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG

SEMARANG- Sebuah gudang penyimpanan obat diduga tanpa izin digerebek aparat Satuan Reserse Narkotika dan Obat Berbahaya (Satresnarkoba) Polrestabes Semarang, Rabu (4/10). Gudang tersebut berada di belakang Apotek Sido Asih Jalan Medoho Raya RT 1 RW 6 Sambirejo, Gayamsari, Semarang. Penggerebekan melibatkan petugas Dinas Kesehatan Kota Semarang, serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Semarang.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Semarang menyebutkan, penggerebekan gudang obat itu terjadi tanpa sengaja. Bermula saat petugas gabungan melakukan pemeriksaan mendadak (sidak) di sejumlah apotek dan klinik kesehatan di wilayah Kota Semarang, Rabu (4/10) sekitar pukul 11.00.

Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi dan menekan peredaran obat-obatan terlarang, salah satunya obat Paracetamol, Caffein dan Carisoprodol atau pil PCC yang bisa membuat konsumennya gila. Dalam razia tersebut, petugas dibagi menjadi tiga tim. Hal itu dilakukan supaya dapat menjangkau beberapa wilayah yang sebelumnya telah didata petugas.

“Kami bagi menjadi tiga tim, masing-masing kita bagi ke wilayah Barat, Utara, Timur dan Tengah. Keseluruhan ada 23 apotek dan klinik yang diperiksa,” ujar Kasat Resnarkoba Polrestabes Semarang AKBP Sidiq Hanafi kepada koran ini.

Sebanyak 23 apotek dan klinik di antaranya 7 di wilayah Barat, 7 di Utara, dan 9 di wilayah Timur dan Tengah. Kegiatan ini  menggandeng Dinas Kesehatan Kota Semarang dan BPOM Semarang.

Dalam sidak tersebut, tidak ditemukan adanya pil PCC seperti yang disasar. Namun, petugas menemukan sejumlah obat yang tidak dilengkapi dengan izin edar di beberapa apotek yang dirazia. Tak hanya itu, pihaknya juga menemukan gudang penyimpanan obat-obatan yang tidak memiliki izin resmi.

“Sementara hasilnya seperti itu. Untuk lebih detail terkait hasil sidak dan lainnya masih menunggu pengecekan. Ini masih dalam tahap pendataan, nanti kalau sudah lengkap akan dijelaskan kapolrestabes,” jelasnya.

Terungkapnya gudang obat yang diduga tanpa izin itu bermula saat petugas menemukan sejumlah obat keras yang sudah kedaluwarsa di Apotek Sido Asih Jalan Medoho Raya. Di antaranya, jenis Grafloxin 400. Saat itu, petugas sempat menanyakan tempat penyimpanan obat kepada apoteker setempat, dan dijawab di belakang apotek. Petugas pun langsung mendatangi gudang yang melewati lorong tersebut. Begitu pintu gudang dibuka, ditemukan ribuan stok obat. Obat tersebut tertata rapi di sejumlah rak dan kardus.

Tiga karyawati apotek tersebut saat ditanya izin gudang tersebut, mengaku tidak tahu. Petugas melihat gudang obat itu tidak sesuai standar penyimpanan obat. Misalnya, suhu gudang yang terlalu panas. “Harusnya, gudang penyimpanan obat itu suhunya dingin. Kalau ini ya seperti gudang pada umumnya,” ujar seorang petugas.

Polisi sendiri tidak memasang police line di gudang tersebut, karena dalam razia itu ternyata petugas tak membawa police line. Namun dari dalam gudang disita sejumlah obat keras yang sudah kedaluwarsa.

Kepala Seksi Penyidikan BPOM Semarang, Agung Suprianto, mengatakan, salah satu temuan dari timnya adalah gudang penyimpanan obat legal, namun pemiliknya tidak bisa menunjukkan surat izin ketika dimintai petugas. Selain itu, dalam gudang penyimpanan obat tersebut didapati sejumlah obat keras dan obat yang sudah kedaluwarsa.

“Untuk penyimpanan obat keras itu harus ada izinnya tersendiri dari farmasi atau apotek. Ini jumlah obatnya banyak, dan kondisinya kurang layak untuk penyimpanan obat. Sementara masih kita selidiki lebih lanjut,” tandasnya.

Sidiq Hanafi menambahkan, kegiatan pemeriksaan mendadak terkait obat-obatan tidak hanya dilakukan kali ini saja, namun akan berjalan secara rutin.

“Ini akan kami lakukan rutin. Kami akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait ini. Itu supaya peredaran obat yang disalahgunakan bisa terkontrol hingga tidak berdampak buruk yang kemudian memicu berbagai hal termasuk tindak kejahatan,” katanya.(tsa/aro)