Melatih Kedisiplinan dengan Metode 4-S

971
Oleh: Pudji Slamet SPd
Oleh: Pudji Slamet SPd

PERMASALAHAN pelajar akhir-akhir ini semakin marak. Bahkan permasalahan tersebut terlalu kompleks suntuk diurai oleh guru. Guru menghadapi beragam karakter siswa, sehingga beragam pula permasalahan yang muncul kepermukaan. Adanya berbagai permasalahan tersebut, lebih bersinggungan dengan masalah kedisiplinan siswa. Misalnya datang ke sekolah terlambat, di kelas selalu membuat masalah, pulang bolos, dan sebagainya. Untuk itu, diperlukan sikap kritis dan strategi yang tepat untuk mengubah masalah tanpa masalah.

Dari permasalahan ini, maka pihak sekolah ingin “mengubah” ketidakberesan itu dengan berbagai upaya. Upaya yang dilakukan antara lain dengan melatih kedisiplinan melalui metode 4-S. Tidak bisa dipungkiri, di era sekarang, anak remaja sering menyebut dengan istilah “wols”. Dari sinilah timbul perasaan serba santai atau slow dalam segala hal, termasuk disiplin dalam berbagai aspek.

Dengan niat yang mulia, para guru mencoba mengubah situasi yang demikian berubah menjadi lebih baik. Dengan bahasa yang sopan yang tidak monoton, dapat melatih untuk bicara dan berlatih dalam berbagai bahasa. Hari Senin, Rabu dan Jumat menggunakan bahasa Indonesia, hari Selasa menggunakan bahasa Inggris dan hari Kamis menggunakan bahasa Jawa.

Metode 4-S tersebut, yakni: pertama, senyum. Siswa datang ke sekolah maksimal seperempat jam sebelum KBM dimulai. Siswa datang secara “original” dengan keadaan  dan kondisi pribadi juga kondisi keluarga. Ada yang cerah, sumringah, mbesengut dan berbagai performance masing-masing anak. Di sinilah kita masuk ke dalam kancah dunia anak. Saatnya kita menegur pada siswa. Bila ada yang belum memberi senyum, tegurlah supaya bisa memberi senyum dengan ikhlas. Dengan memberi senyum akan membuat kita jadi clear dan ada ikatan kekeluargaan.

Kedua adalah salam. Memberi salam kepada Bapak/Ibu guru ataupun karyawan dengan bahasa sapaan setiap hari,”assalamualikum”,selamat pagi, good morning, sugeng enjing, selamat siang, good afternoon, sugeng siang dan lain-lain. Secara tidak disengaja kita sudah melatih keterampilan berbicara pada siswa, yang salah dan kurang “trep” dibetulkan. Memberi salam dan jabat tangan sebagai upaya pendisiplinan siswa, baik dengan orang yang lebih tua atau sesama yang sepadan dengan pola “unggah-ungguh” yang benar.

Ketiga, sapa. Menyapa sebagai ungkapan seseorang kepada orang lain dalam bahasa lisan, tentunya dengan unggah-ungguh yang benar pula. Bahasa yang digunakan harus benar sesuai dengan kaidah atau aturan yang ada, dengan siapa kita bicara, dan yang tidak kalah pentingnya adalah dengan melihat atau menatap lawan bicara kita, jangan sekali-kali kita dalam bicara mlengos atau tidak menghadap pada lawan bicara kita. Karena hal itu akan dapat menyinggung si lawan bicara. Pada fase ini kita sering melakukan hal-hal yang salah atau kurang pas yang dilakukan oleh siswa. Saat ini pula kita berkesempatan untuk membetulkan hal yang kurang pas dan mendorong mereka yang sudah benar.

Ikhlas

Kesan menyapa  juga  harus didasarkan pada performa, mimik, dan ujaran verbal yang ikhlas. Raut muka yang ikhlas, dengan balutan senyum yang sesuai, ketika menyapa maka akan membuat siswa merasa simpati dan empati.  Di sinilah pentingnya menumbuhkan rasa simpati siswa dengan temannya, maupun siswa dengan wargas ekolah yang lain.

Keempat, sensor. Pada tahap ini waktu kita “menyensor”, menegur, membetulkan yang salah dan memberi solusi yang bisa dilakukan oleh siswa. Banyak hal yang kita jumpai, dari cara berpakaian, atribut  yang  tidak lengkap, kebersihan badan, dan banyak hal lain yang sering kita jumpai pada siswa saat ini. Sudah barang tentu siswa yang tidak memenuhi standar aturan dicatat dalam buku khusus, yang nantinya dijadikan sebagai bahan pembinaan bagi siswa. Pembinaan tersebut diberikan secara individual maupun secara klasikal.

Nah,dengan adanya pemberdayaan metode 4-S ini, alhasil ada hal yang signifikan dan perubahan yang lebih baik, bahkan bisa membuat efek jera pada siswa. Ada kata bijak, sekeras apapun batu, kalau ditetesi air terus-menerus lama-lama akan hancur juga. Seberat apapun permasahan yang kita hadapi guru terkait dengan permasalahan siswanya, kalau kita dengan kontinyu mencari jalan keluarnya, pastilah akan ada solusi yang terbaik. Pada akhirnya kita akan memiliki siswa yang andal sebagai generasi penerus bangsa. Semoga. (*/aro)