BRT Koridor Satu Paling Dikeluhkan

823

SEMARANG – Evaluasi pelayanan Bus Rapid Transit (BRT) dilakukan Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang periode Januari-September 2017. Hasil evaluasi triwulan ketiga September itu terdapat total 459 keluhan masyarakat. Keluhan itu didapatkan melalui hotline Lapor Hendi, hotline pengaduan di 08112884447,dan sosial media milik Trans Semarang yakni twitter dan Instagram @transsemarang.

Plt Kepala BLU Trans Semarang, Ade Bhakti mengatakan dari semua keluhan yang masuk tersebut, periode keluhan masyarakat pengguna BRT terjadi pada Juli 2017 yang tembus 114 keluhan. Untuk Keluhan yang paling banyak, terjadi pada koridor I di angka 129 laporan. “Koridor I yang dioperasikan PT Trans Semarang menjadi koridor yang paling banyak dikeluhkan sejak periode tersebut, total ada 129 keluhan yang masuk,” katanya.

Selain koridor I, lanjut dia koridor II yang dioperasionalkan oleh PT Surya Setia Usuma dengan 104 keluhan berada di posisi kedua. Sedangkan paling rendah keluhan masyarakat ada di koridor III sebanyak 25 keluhan, koridor ini dioperasionalkan oleh PT Mekar Flamboyan. “Posisi 3, 4 dan 5 berturut-turut keluhan terbanya koridor IV, V, dan VI. Seperti kita ketahui koridor V dan VI ini dioperasinalkan oleh PT Minas Makmur Jaya yang satu grup perusahaan dengan pengelola operator koridor I dan II,” paparnya.

Dalam keluhan yang dilakukan pendataan tersebut, lanjut Ade, dibedakan menjadi 15 item keluhan. Hasilnya keluhan terhadap sopir masih mendominasi. Total ada 95 keluhan terkait sopir, mulai dari yang katanya ugal-ugalan, menerobos lampu merah, merokok di dalam bus, dan berkata kasar. “Keluhan lainnya adalah armada yang meninggalkan penumpang atau tidak berhenti di shelter. Selain itu juga ada komplain terkait petugas tiket dan terkait armada berturut-turut di urutan 3 dan 4 sebanyak 69 dan 64 keluhan,” jelasnya.

Agar keluhan dari pengguna BRT bisa berkurang dan demi terciptanya kenyamanan penumpang, lanjut Ade, per bulan September pihaknya sudah mem blacklist 22 nama sopir dan mengeluarkan 28 petugas tiket yang terbukti melanggar SOP tingkat berat hingga yang terbukti mencoba berbuat curang. “Penindakan ini dilakukan agar terciptanya kenyamanan, awak bus dan kru pun bisa bekerja sesuai dengan standar yang ada,” tegasnya.

Dengan tindakan yang tegas, efek yang ada cukup signifikan terkait pendapatan per hari, jika April kemarin setelah launching koridor V dan VI pendapatan di angka rata-rata per hari antara Rp 58 – Rp 64 juta, setelah dilakukan penindakan pendapatan dua koridor tersebut naik signifikan. “Saat ini pendapatan rata-rata diatas angka Rp 72 juta sampai Rp 84 juta, bahkan beberapa hari pernah menyentuh angka diatas Rp 92 juta,” bebernya.

Kenaikan angka pendapatan tersebut membuktikan masyarakat semakin banyak menggunakan BRT. Ia mengaku  ke depan, pengelola akan menambah alat ticketing sebanyak 72 unit pada APBD perubahan 2017. (den/ric)