Desak Kasus Pemukulan Wartawan Diusut

476

SEMARANG – Pemukulan dan pengeroyokan awak media oleh oknum kepolisian dan Satpol PP di depan kantor Bupati Banyumas, Senin (9/10) malam, mendapat tanggapan dari Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Ganjar meminta agar kasus ini diusut hingga tuntas.

“Tadi saya sudah dapat kabar. Ini mesti dilaporkan. Kalau kepolisian ke provost, Satpol PP ke bupati. Agar kemudian diberikan kejelasan apa yang terjadi sebenarnya,” ucapnya ketika ditemui di ruang kerjanya, Selasa (10/10). Ganjar sangat menyayangkan tragedi pemukulan wartawan oleh oknum penegak hukum itu. Menurutnya, jika ada masalah, lebih baik dibicarakan saja. “Mestinya tidak boleh (terjadi pemukulan). Masa wartawan dithuthuki,” tegasnya.

Di lain pihak, Serikat Pekerja Media Lintas Media (SPLM) Jateng mengecam tindakan “kriminal” yang dilakukan sejumlah anggota Polres Banyumas dan Satpol PP Banyumas. Ketua SPLM Jateng, Abdul Mughis menjelaskan, pihaknya telah menyatakan sikap. Yakni mendesak Kapolres Banyumas mengusut tuntas pelakuyang terlibat dalam insiden penganiayaan terhadap sejumlah jurnalis di Banyumas. Jika Kapolres tidak menyelesaikan hingga tuntas, pihaknya mendesak Kapolri untuk mencopot Kapolrestabes Banyumas. “Kami mendesak Kapolri untuk mencopot Kapolres Banyumas apabila kasus ini tidak diselesaikan hingga tuntas,” tegasnya.

Selain itu, pihaknya juga meminta Kapolres Banyumas meminta maaf kepada publik dan mengganti semua kerugian materiil akibat tindakan kekerasan yang dilakukan sejumlah anggota Polres Banyumas terhadap para jurnalis.

Dijelaskan Mughis, pokok persoalan bukan pada soal mudah meminta maaf, tapi etika dan sikap petugas pengayom masyarakat perlu dievaluasi. Arogansi Kepolisian dalam bertindak kepada insan pers yang bekerja dilindungi UU harus diketahui, dan dijadikan kesepakatan bersama untuk tidak terulang.

Seperti diketahui, peristiwa pemukulan berawal saat wartawan Metro TV, Darbe Tyas meliput pembubaran paksa aksi tolak pembangunan PLTPB Gunung Slamet di depan kantor Bupati Banyumas, Senin (9/10) malam. Pembubaran paksa aksi penolakan PLTB di depan kantor Bupati Banyumas dilakukan secara brutal, sehingga Darbe menjadi korban kekerasan fisik, berupa pemukulan dan pengroyokan sejumlah anggota kepolisian Polres Banyumas dan Satpol PP Pemkab Banyumas.

Saat terjadi aksi pembubaran paksa massa aksi secara brutal dan membabi buta, sekitar pukul 22.00, empat wartawan dari Suara Merdeka (Agus Wahyudi), Satelitpost (Aulia El Hakim), Radar Banyumas (Maulidin Wahyu), dan Metro TV (Darbe Tyas), langsung mengabadikan momen tersebut.

Saat empat wartawan tersebut berhasil mengabadikan atau mengdokomentasikan momen tersebut, sejumlah oknum polisi dan Satpol PP, memaksa dan berusaha merampas alat kerja mereka, seperti HP dan kamera. Kejadian yang patut disesalkan saat wartawan Metro TV, Darbe, diinjak-injak, ditendang dan dipukul oleh sekitar 10 aparat. (amh/ric)