Droping Pasien Sembuh Kurang dari Satu Persen

1109
KOMPAK: Direksi dan pegawai RSJ Prof Dr Soerojo Magelang saat memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di halaman kantor setempat, kemarin (AHSAN FAUZI/JAWA POS RADAR KEDU).
KOMPAK: Direksi dan pegawai RSJ Prof Dr Soerojo Magelang saat memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di halaman kantor setempat, kemarin (AHSAN FAUZI/JAWA POS RADAR KEDU).

MAGELANG—Tingkat kesadaran masyarakat terhadap penderita gangguan jiwa untuk dirujuk ke rumah sakit jiwa, mulai membaik. “Dulu, stigma negatif masyarakat, jika ada gangguan jiwa, pasti tahunya diguna-guna, larinya ke dukun dan orang pintar. Kalau sudah parah, baru dibawa ke RSJ,” kata Bagian Promosi Kesehatan Masyarakat RSJ Prof Dr Soerojo Magelang, M. Zainal, dalam peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pada 10 Oktober, kemarin.

Sekarang ini, lanjut Zainal, jika ada keluarga yang mengalami gangguan jiwa, tidak malu lagi dibawa ke RSJ. Zainal melanjutkan, pihaknya lebih menekankan kegiatan promotif-preventif kepada masyarakat terkait gangguan penyakit jiwa.

Yakni, mengandeng Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah untuk program integrasi kesehatan jiwa di masyarakat. “Kita lebih baik mencegah. Upaya pencegahan jauh lebih murah, jika dibandingkan dengan yang sudah menderita akut, baru dirujuk, tentu akan menghabiskan dana lebih besar.” Selain kesadaran masyarakat membawa keluarga yang mengalami gangguan jiwa ke RSJ kian membaik, penerimaan masyarakat terhadap pasien yang sudah sembuh juga cukup bagus.

“Dulu, pasien yang sudah sembuh dari rawat inap, keluarga enggan mengambil. Akhirnya, petugas melakan droping pasien untuk diantarkan ke pihak keluarga. Droping pasien, sekarang presentasinya tidak lebih dari satu persen. Padahal, tiga tahun lalu, bisa mencapai 2/3 persen hingga 20 persen.”

Direktur Medik dan Keperawatan RSJ Prof Dr Soerojo Magelang, dr Nur Dwi Esthi, menambahkan, kapasitas tempat tidur di RSJ Dr Soerojo Magelang ada 584 tempat tidur. Sebanyak 15 persen dialokasikan untuk pasien nonjiwa. “Saat ini, rawat inap, baik gangguan jiwa atau nonjiwa di RSJ mencapai 50-60 persen. Data itu membuktikan, kesadaran masyarakat kian membaik. Jika keluarganya sudah sembuh, bisa menerima kepulangannya.”

Dokter Nur menjelaskan, Faskes I adalah Puskesmas, Faskes II RSUD; dan Faskes III: RSJ. “Jika sudah sembuh dari RSJ, berarti selajutnya bisa dilakukan perawatan di Puskesmas dan RSUD, bukan RSJ lagi.”

Nur membeber, banyak faktor penyebab gangguan jiwa. Di antaranya, faktor psikologi, sosial, kultural, biologi dan spritual. “Dari penyebab itu, yang mendominasi adalah faktor sosial dan psikologi.” (san/isk)