Media Kartu Huruf, Tingkatkan Belajar Aksara Jawa

1818
Oleh: Khusnul Agustina SPd
Oleh: Khusnul Agustina SPd

PEMBELAJARAN menggunakan slide LCD proyektor sebagai media untuk presentasi menggunakan power point  memang baik. Konsentrasi dan pembelajaran siswa bisa berjalan baik, tetapi pemakaian slide secara terus-menerus ternyata juga menimbulkan kebosanan. Untuk menghindari itu, guru membuat media kartu sebagai solusinya yang bertuliskan Aksara Jawa.  Bahan kartu  terbuat dari kertas HVS dengan ukuran tertentu.  Kartu huruf dibuat dengan warna yang berbeda. Ternyata siswa lebih antusias saat pebelajaran aksara Jawa.

Tahap selanjutnya, guru mengamati saat siswa menggunakan kartu sebagai media pembelajaran Aksara Jawa. Selama proses menggunakan kartu, siswa lebih aktif dan terjadi komunikasi antarsiswa. Bila temannya tidak bisa, siswa yang lain mengingatkan. Apabila temannya kesulitan untuk memahami, siswa lainnya dengan suka rela memberikan bimbingan.

Melihat hal tersebut, maka untuk lebih meningkatkan motivasi belajar siswa memahami Aksara Jawa dibuatlah kelompok untuk membuat media yang lebih baik, kreatif, dan inovatif. Setiap kelompok terdiri atas 4 siswa. Adapun bahan membuat peraga adalah triplek 2 ml berukuran 7 X 10 cm, cat kayu warna primer (merah, kuning, dan biru), gergaji triplek, kuwas kecil, amplas. Karena jumlah Aksara Dentawiyanjana dan pasangannya ada 40, maka dibagi setiap kelompok membuat 4 atau 5 saja.

Pertama, siswa diberi pengarahan untuk download Aksara Jawa, kemudian mencetaknya. Setelah itu dipotong sesuai bentuknya ditempelkan pada triplek yang sudah disiapkan. Selanjutnya digergaji dan diamplas. Setelah halus dapat dicat dengan warna yang disenangi. Untuk menambah variasi warna, dapat mencampurkan warna-warna primer. Karena saat pembelajaran dibutuhkan banyak, maka tugas tersebut diberikan pula untuk kelas lain. Adapun waktu yang diberikan bisa dua sampai tiga minggu.

Saat tatap muka di kelas, guru berdiskusi tentang tugas yang diberikan terkait kesulitan-kesulitan yang dialami. Guru juga memberitahukan ke siswa, bahwa mereka  harus kompak, harus membagi tugas dengan adil, sehinga tidak ada salah satu angota yang kesulitan mengerjakan soal.

Pelaksanaan pembelajaran saat tugas sudah selesai, guru secara klasikal menggunakan alat peraga untuk bertanya jawab kepada siswa dan memberikan motivasi bahwa siswa pasti bisa hafal semua Aksara Jawa. Sehingga tidak kesulitan lagi membaca kalimat yang ditulis dengan Aksara Jawa.  Siswa duduk berkelompok 6-6. Setiap kelompok menyiapkan selembar kertas untuk menulis hasil presentasi setiap temannya. Guru perlu memberitahu pula, bahwa siswa harus mencapai nilai 100. Maka apabila temannya belum memperoleh nilai yang diminta guru, mereka harus mengulanginya.

Proses penilaian ditulis sesuai capaian. Apabila mencapai nilai 100 dalam sekali presentasi, maka langsung dituliskan 100. Tetapi apabila tidak, maka ditulis sesuai dengan berapa kali presentasi yang dilakukan hingga mencapai 100.

 Tidak Terbebani

Metode tersebut ternyata memberikan pengalaman baru bagi siswa. Bahwa penilaian tidak harus secara langsung dilakukan oleh guru, selain itu mereka lebih tidak terbebani. Mereka menganggap seperti bermain tetapi sambil belajar. Kegiatan lebih seru dan keakraban antar teman juga merupakan penilaian plus. Siswa saling mengutarakan pendapat, menilai, dan berbagi pengetahuan. Langkah berikutnya bacaan berhuruf Jawa yang terdapat di buku paket ditampilkan ditulis siswa pada kertas HVS yang telah disediakan guru. Setiap kalimat ditulis pada selembar kertas. Antarkelompok saling melakukan penilaian. Kemudian hasilnya dilaporkan kepada guru.

Guru sebagai pendidik harus bisa membelajarkan siswa, dari yang tidak tahu menjadi tahu. Pemilihan metode mengajar yang tepat akan membantu lancarnya kegiatan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) terutama dalam memahamkan siswa. Pengetahuan yang diperoleh siswa dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama. Selain itu, siswa  memiliki peluang untuk meningkatkan keberanian, gagasan, bertanggung jawab dan lebih mandiri. Hal tersebut sesuai dengan Metode Belajar Resitasi.

Melalui metode tersebut, maka mudah untuk mencapai tujuan pembelajaran.  Siswa dapat membaca paragraf berhuruf Jawa, karena telah memahami Aksara Jawa dengan baik. Sehingga pembelajaran Bahasa Jawa, khususnya kompetensi dasar (KD) membaca paragraf berhuruf Jawa lebih menyenangkan. (*/aro)