Belajar Berdemokrasi lewat Pemilos Smaga

516
ISTIMEWA BERSAING: Tiga kandidat Ketua OSIS, Nabil Omar Jidan, Fina Arisa dan Muhammad Urinadja bersama Ketua KPU Kota Semarang, Henry Wahyono.
ISTIMEWA BERSAING: Tiga kandidat Ketua OSIS, Nabil Omar Jidan, Fina Arisa dan Muhammad Urinadja bersama Ketua KPU Kota Semarang, Henry Wahyono.

SEMARANG- Untuk mengenalkan konsep pemilihan umum (Pemilu) sejak dini, para siswa SMA Negeri 3 (Smaga) Semarang menggelar pemilihan umum ketua OSIS (Pemilos) pada Kamis (12/10) pagi. Pelaksanaan Pemilos yang dikemas mirip pilkada ini disambut antusias para siswa. Salah satunya Deanisa Ayu. Ia mengatakan ada sekitar 2.000 siswa yang ikut menyemarakkan Pemilos pada tahun ajaran 2017/2018 ini.

“Ada enam TPS dengan jumlah anggota KPPS sebanyak 50 orang. Kami senang karena bisa meningkatkan pembelajaran tentang tata cara Pemilu, sekaligus bisa belajar berdemokrasi,” ungkap siswi kelas XII IPA ini.

Pelaksanan Pemilos ini digelar seharian penuh dan dimulai sejak pukul 09.00. Ia menyebut, ada tiga calon ketua OSIS yang saling berebut suara di setiap TPS. Yakni, Nabil Omar Jidan, Fina Arisa dan Muhammad Urinadja.

“Kami sangat bersyukur karena pelaksanaan Pemilos tiap tahun dapat sambutan meriah dari para guru yang turut serta berpartisipasi,” jelasnya.

Ketua KPU Kota Semarang, Henry Wahyono, mengapresiasi pelaksanaan Pemilos di sekolah favorit ini. Sebab, Pemilos tahun ini sengaja mengadopsi aturan yang ada di Pilgub Jateng 2018.

“Ini konsepnya kayak Pemilu. Kita juga menyesuaikan dengan UU yang berlaku. Kita juga memberikan bimbingan teknis, sehingga mereka mudah memahami pelaksanaan di lapangan,” katanya.

Ia berharap ajang itu mampu menggoreskan kesan tersendiri saat mereka beranjak dewasa nanti. Misinya untuk membawa konsep berdemokrasi dan berkeadilan ke tingkat sekolah. “Kami ingin membiasakan setiap pemilihan dilakukan dengan proses yang benar dan mempersiapkan calon PPS KPPS sejak dini. Apalagi dengan mengacu pada aturan yang baru, sekarang calon petugas Pemilu minimal berusia 17 tahun. Kan mereka kebanyakan tahun depan sudah berusia 18 tahun,” ujarnya.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang menyempatkan diri hadir dalam kegiatan tersebut mengapresisasi positif pelaksanaan Pemilos tersebut. Melalui kegiatan itu, kata dia, siswa tidak lagi kaget dengan demokrasi yang dilaksanakan di negara ini.

“Pagi ini kalian latihan demokrasi. Demokrasi itu berpartisipasi. Demokrasi itu muncul dari bawah tidak ditunjuk, semua punya hak yang sama agar tidak keliru memilih,” kata Ganjar.

Kegiatan itu, imbuh dia, mengajarkan para siswa yang belum pernah mempunyai pengalaman menjadi pemilih dalam pemilu menjadi paham arti demokrasi. Termasuk, mengetahui tahapan pelaksanaan pemilu, serta peraturan-peraturannya.

Melalui paparan program dan visi misi calon ketua OSIS, para siswa juga bisa menilai kira-kira para kandidat bisa memimpin atau tidak, program yang diusung cocok atau tidak dengan yang dibutuhkan masyarakat, dalam hal ini para siswa. “Sehingga kelak semua bisa mempraktikan dalam pemilihan umum. Misalnya, yang di desa, ada pemilihan kepala desa, bupati, presiden, dan anggota DPRD,” ujar alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) ini. (tsa/aro)