BUMD Diminta Tumbuh Bersama Melayani Masyarakat

661

SEMARANG – DPRD Jateng meminta seluruh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dapat bersinergi bersama. Perusahaan daerah diharapkan mampu melayani dan menumbuhkembangkan kemampuan perekonomian masyarakat.

Hal itu dikatakan Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi dalam forum group discussion (FGD) ”Penguatan Sinergi Bank Jateng dan BPR/BKK sebagai Pilar Ekonomi Jateng” di Gedung Berlian, Rabu (11/10).

Imbauan tersebut muncul menanggapi keluhan Bank Perkreditan Rakyat/Badan Kredit Kecamatan (BPR/BKK) di sejumlah kabupaten/kota yang merasa segmen pasarnya terus dipenetrasi oleh Bank Jateng. “BUMD harus tumbuh bersama melayani masyarakat dan menumbuhkembangkan kemampuan perekonomian,” katanya di hadapan peserta FGD dari kalangan BPR/BKK, Bank Jateng, OJK dan juga Komisi C DPRD Jateng.

Ketua Komisi C DPRD Jateng Asfirla Harisanto menandaskan, Bank Jateng menjadi penopang pendapatan asli daerah (PAD) kedua dengan deviden terbesar lebih dari Rp 330 miliar. “Dengan rencana mergernya BPR/BKK di Jateng ini maka pondasinya tentu akan lebih kuat dengan aset hingga Rp 9,6 triliun,” ujarnya. Sebab seluruh dana BPR/BKK saat ini disimpan di Bank Jateng.

Dirut PD BPR/BKK Purwokerto Kabupaten Banyumas Sugeng Prijono menambahkan dana yang ditempatkan di Bank Jateng sangat besar hingga Rp 200 miliar. Menurut dia, sudah banyak penawaran dari bank lain untuk penempatan kelebihan dana BPR yang jauh lebih menarik sehingga hal tersebut bisa menjadi pertimbangan khusus jika persoalan ini tidak ditangani secepat mungkin.

Ketua Dewan Pengawas BPR/BKK Ihwan Sudrajat meminta Bank Jateng bisa memahami pasar dan memberi ruang jangan sampai masuk ke wilayah yang seharusnya digarap BPR/BKK. Menurutnya barang akan bergerak ke pasar yang harganya kompetitif dan mereka yang bisa memberikan hal itu tentu memiliki kekuatan modal besar.

Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Jateng-DIY Indra Yuheri mengatakan, porsi kue penyaluran kredit di Jateng sangat besar sekitar Rp 40 triliun. Yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah bagaimana pembagian ‘kue’ agar keduanya bisa tumbuh bersama.

”Perlu disadari Bank Jateng juga harus memenuhi target tetapi perlu ada terobosan bagaimana menikmati kue itu bersama-sama. Misalnya dengan linkage program ataupun penyaluran KUR sebenarnya bisa bekerjasama dengan BPR/BKK,” jelasnya.

Kepala Divisi Perwakilan Bank Jateng Antoni menambahkan, salah satu program yang bisa dijembatani adalah melalui linkage yang dikemas dengan suku bunga relatif murah. Dengan demikian BPR/BKK memiliki dana untuk fokus pembiayaan di lapangan yang menjadi segmennya. ”Sebagai mitra tentunya kami ingin bisa bekerjasama untuk maju dan bertumbuh,” katanya. (ric/zal)