Bupati Pekalongan Didapuk Jadi Duta Batik Warna Alam Indonesia

728
APRESIASI PERAJIN BATIK : Bupati Pekalongan, Asip Khobihi, saat mengenakan pakaian batik kawung sembilan, karya perajin Dekranasda yang mendapatkan banyak penghargaan (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG).
APRESIASI PERAJIN BATIK : Bupati Pekalongan, Asip Khobihi, saat mengenakan pakaian batik kawung sembilan, karya perajin Dekranasda yang mendapatkan banyak penghargaan (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Setelah sebelumnya Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, berhasil melakukan branding Kabupaten Pekalongan sebagai Legenda Batik Dunia, sehingga banyak berdatangan wisatawan, kini didapuk menjadi Duta Batik Warna Alam Indonesia.

INDUSTRI batik rumah tangga di Kabupaten Pekalongan kini cukup bergairah, setelah Bupati Pekalongan Asip Kholbihi berhasil melakukan branding Kabupaten Pekalongan sebagai Legenda Batik Dunia. Di antaranya telah membuka pasar Batik Pekalongan di beberapa kota besar di Indonesia, seperti mengikuti pameran nasional serta melakukan MoU pemasaran batik di Kota Makassar.

Bahkan, baru- baru ini Bupati Asip mengenalkan batik Kabupaten Pekalongan ke pasar internasional. Di antaranya saat memenuhi undangan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di New York, para pengusaha dan desainer batik di Kota New York, Amerika Serikat (AS), dimanfaatkan untuk mempromosikan batik pewarna alam. Tapi siapa sangka, Bupati Asip justru didaulat menjadi Duta Batik Warna Alam Indonesia oleh KJRI di New York, Jumat (13/10) kemarin.

Dijelaskan bupati, bahwa batik Kabupaten Pekalongan yang pewarnaannya dibuat dari alam, sangat diterima dan disukai oleh masyarakat Amerika Serikat. Bahkan, batik warna alam tersebut sedang menjadi trend di Amerika Serikat.

“Saya dianggap semacam duta batik warna alam Indonesia yang nantinya selama di New York akan menemui komunitas, pengusaha, hingga desainer batik. Ini selaras dengan tren dan kenaikan permintaan batik warna alam di negeri Paman Sam. Ini membuktikan bahwa batik mulai diterima di pasaran Amerika Serikat,” ungkap Bupati Asip.

Menurutnya, batik warna alam lebih ramah lingkungan, limbahnya tidak merusak tanah karena unsur-unsur alam, mudah untuk didaur ulang oleh alam, dan bahan bahan dasarnya sangat melimpah di Kabupaten Pekalongan.

Diakui Bupati Asip, selama ini batik warna alam Kabupaten Pekalongan sudah dipasarkan di Asia. Bahkan, sudah ada banyak permintaan dari Singapura dan Malaysia yang kerap menggelar acara fashion show. Namun pasca dirinya mempromosikan batik warna alam Kabupaten Pekalongan di beberapa kota besar di Amerika Serikat, kini beberapa perwakilan dari negara Uni Eropa, Korea Selatan, Equador, Ukraina dan Romania, memesan batik warna alam Kabupaten Pekalongan.

“Batik warna alam ini layak dipasarkan di Eropa, karena konsumen menyukai produk-produk yang ramah lingkungan. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya permintaan pesanan dari beberapa desainer dari negara negara Uni Eropa, Korea Selatan, Equador, Ukraina dan Romania,” tandas Bupati Asip.

Sementara itu, batik warna alam Kabupaten Pekalongan diambil bahan-bahan tumbuh-tumbuhan yang ada di hutan Petungkriyono dan di sepanjang pesisir laut di Kabupaten Pekalongan. Bahkan, Pemkab Pekalongan juga telah bekerja sama dengan badan penelitian dan universitas untuk memperbanyak warna yang dihasilkan.

Sejauh ini, telah berhasil mengekstrak sekitar 25 warna dari tumbuh-tumbuhan yang ada di hutan tersebut. Bupati juga selalu mengimbau kepada masyarakat, untuk menjaga tanaman yang menghasilkan warna alam dan membudidayakan tanaman tersebut. Diprediksi, di masa mendatang permintaan ekstrak dari tanaman dari warna alam ini akan meningkat.

“Warna alam masih mahal karena belum diproduksi secara masal. Ini menjadi PR atau Pekerjaan Rumah bagi kami, bagaimana supaya bisa memproduksi warna alam secara masal. Dengan begitu, para perajin akan tertarik untuk pindah menggunakan warna alam ketimbang kimia. Sekarang sudah luar biasa jadi pilihan bagi buyer di Amerika Serikat,” tegas Bupati Asip. (thd/adv)