Buktikan Tak Ada Batas Untuk Kembangkan Kreatifitas

Melongok Kreatifitas Adhe Sukma Pamungkas, Pembuat Kostum Karnaval

715
KREATIF: Adhe Sukma Pamungkas, dengan kostum bertema Borobudur hasil karyanya (Ist).
KREATIF: Adhe Sukma Pamungkas, dengan kostum bertema Borobudur hasil karyanya (Ist).

Larangan dari sang ibu tidak membuat Adhe Sukma Pamungkas kemudian berhenti berkreasi. Secara mandiri dia mengumpulkan uang demi merealisasikan ide-idenya ke dalam bentuk kostum yang kemudian ia tampilkan di berbagai event karnaval dan kompetisi.

SIGIT ANDRIANTO

Bagi alumnus SMA N 5 Semarang ini, membuat kostum sudah seperti panggilan yang muncul dari hati. Berawal dari angan-angan untuk bisa memakai kostum bagus, kini Ade sudah bisa menciptakan sendiri kostum hasil kreasinya.

Tidak hanya membuat saja. Bahkan kostum hasil karyanya juga ia peragakan dan memenangi beberapa event maupun kompetisi, baik di Semarang maupun di luar Kota Semarang.

Alhamdulillah saya pernah meraih juara 2 GCC Unika 2016,  Juara 1 Solo Batik Carnival X Defile Jathayu, di situ saya berkolaborasi dengan teman saya, juara Best Performer Boyolali Night Carnival 2017, juara 3 GCC Unika 2017,” ujarnya bangga.

Bukan tanpa kendala. Dalam perjalanan menyalurkan bakat dan minatnya ini, Ade sempat di larang oleh sang ibu. Pasalnya, untuk membuat satu kostum yang bisa menghabiskan waktu 1-2 bulan ini, Ade harus mengeluarkan budget hingga jutaan rupiah.

Bukan berarti ingin melawan orang tua, namun ia beranggapan bahwa kreatifitas itu tidak seharusnya dibatasi ataupun dipangkas. Ade berupaya untuk tetap berkreasi meskipun harus diwarnai dengan perjuangan. Mengumpulkan bahan sedikit demi sedikit pun akhirnya ia lakoni demi menciptakan kostum-kostumnya.

“Jadi tidak langsung banyak. Saya beli bahan sesuai dengan uang yang saya miliki saja. Istilahnya saya nyicil untuk bahan-bahan yang diperlukan,” kata dia.

Dari hasil perjuangannya ini, Ade sudah menghasilkan beberapa kostum dengan tema yang beragam. Diantaranya kostum dengan tema Tanduk Api Warak, Rahwana,  Burung Blekok, Reog Ponorogo, Borobudur dan Api. Semuanya sudah ia kenalkan kepada masyarakat lewat event karnaval di berbagai kota di Indonesia.

“Selain itu saya juga pernah membuat 10 macam Headpiece dengan tema yang berbeda beda,” ceritanya.

Ade bercerita bahwa dirinya tidak mengikuti sekolah khusus untuk menciptakan kostum-kostumnya ini. Semuanya ia kerjakan secara otodidak dengan mencari inspirasi dari media sosial. Dengan tekad dan keinginan kuat, ia telah membuktikan bahwa angan-angan bisa menjadi kenyataan.

“Saya mengerjakan sendiri. Kadang lihat inspirasi di media sosial. Tapi untuk yang berat berat saya biasanya dibantu kakak ipar. Seperti saat membuat kerangka sayap dari besi. Untuk hal itu pasti saya butuh bantuan,” kata dia.

Ke depan, Adhe berambisi untuk menjadi designer kondang sehingga bisa membanggakan kota kelahirannya, Semarang. Terlebih ia juga ingin membawa nama Indonesia ke dalam gelaran Internasional melalui kostum yang dibuatnya.

“Semoga ke depan saya bisa memproduksi kostum yang banyak dan karya-karya saya bisa diterima oleh masyarakat,” harapnya.

“Jadi nggak cuma cewek aja lho yang bisa berekspresi memperagakan kostum,” imbuhnya sembari tersenyum sumringah. (*/zal)