Media Puzzle Tingkatkan Keterampilan Menulis Berbahasa Jawa

872
Oleh: Dyah Tri Widayanti SPd
Oleh: Dyah Tri Widayanti SPd

MENULIS adalah salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang mutlak dilakukan di sekolah. Dengan menulis siswa dapat menuangkan gagasan dan pengalaman dalam berbagai macam bentuk karangan. Kenyataan yang terjadi hingga saat ini, masih ada sebagian siswa yang menganggap kegiatan menulis karangan itu sulit dan membosankan.

Banyak siswa yang mengalami hambatan dalam pemilihan kosakata, pembuatan alur cerita, penggunaan ejaan dan tata bahasa yang baik dan benar. Terlebih menulis karangan berbahasa Jawa yang notabene masih menjadi momok sebagai pelajaran yang tidak disukai siswa. Bahasa Jawa dianggap bahasa yang susah, rumit, njlimet dan sarat dengan unggah-ungguh yang jauh dari kebiasaan siswa sehari-hari yang lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi.

Karangan narasi/naratif terdapat pada salah satu Kompetensi Dasar dalam Standar Isi Kurikulum 2013 Mulok Bahasa Jawa Kelas VII SMP/SMPLB/MTs. Dalam KD tersebut disebutkan bahwa ada kegiatan memahami isi teks narasi tentang peristiwa atau kejadian dan meringkas isi teks narasi tentang peristiwa atau kejadian dengan ragam krama.

Berdasarkan hal tersebut besar kemungkinan juga para siswa harus menguasai keterampilan menulis karangan naratif berbahasa Jawa yang akan menjadi nilai plus untuk siswa. Karangan naratif ini biasanya ditulis berdasarkan rekaan atau imajinasi siswa, tetapi bisa juga berdasarkan pengalaman pribadi siswa, pengamatan ataupun wawancara.

Menjawab realita yang terjadi saat ini bahwa masih banyak siswa yang tidak menyukai mapel bahasa Jawa dan menganggap keterampilan menulis karangan naratif berbahasa Jawa adalah hal yang sulit dan membosankan, maka sebagai guru kita harus lebih kreatif mempersiapkan skenario pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa tetapi tujuan pembelajarannya tetap tercapai.

Media Puzzle

Pada hakikatnya anak-anak memang tidak bisa lepas dari dunia bermain. Maka sebagai guru kita harus pandai-pandai memanfaatkan sarana prasarana yang ada di sekolah sebagai arena bermain anak dengan tetap mengutamakan tercapaianya tujuan pembelajaran. Seperti halnya untuk mencapai tujuan agar anak terampil menulis karangan naratif berbahasa Jawa, dibutuhkan suatu media permaianan di dalamnya. Hampir di tiap-tiap sekolah menggunakan gambar sebagai media pembelajaran.

Namun kreatifitas guru dalam mengkreasikan berbagai gambar belum banyak ditemukan. Media puzzle adalah suatu media yang berupa potongan-potongan gambar secara acak, yang di dalamnya terdapat teka-teki yang harus dipecahkan siswa supaya siswa bisa membentuk dan mengurutkan gambar dengan benar. Media puzzle ini dibuat untuk menarik minat siswa, untuk mempermudah dan memperjelas dalam menyampaikan isi pelajaran sehingga tujuan pembelajaran menulis karangan naratif berbahasa Jawa dapat tercapai.

Suatu gambar berseri akan dikemas kedalam bentuk permainan puzzle yang nantinya akan memudahkan siswa untuk mengerti dalam mengartikan suatu urutan cerita yang telah ada. Salah satu teknik yang bisa digunakan dalam pembelajaran menulis karangan naratif adalah teknik mengarang terpimpin. Mengarang terpimpin berarti bahwa aktivitas mengarang masih sebagian besar dikuasai oleh guru.

Dalam hal ini guru masih aktif membantu dalam pembelajaran mengarang siswa, dimulai dari pemilihan tema, alur, kerangka karangan sampai dengan pilihan kata pada saat pembuatan karangan. Teknik pelaksanaan pembelajaran menulis karangan naratif berbahasa Jawa dengan menggunakan media puzzle ini diawali dengan guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok. Kemudian jumlah puzzle yang disiapkan juga sesuai dengan jumlah kelompok. Masing-masing kelompok akan menerima satu puzzle. Setelah guru memberikan aba-aba mengerjakan, masing-masing kelompok dengan cekatan menyusun potongan-potongan gambar puzzle tersebut. Puzzle yang sudah tersususun menjadi sebuah gambar lengkap siap digunakan untuk media menulis karangan naratif berbahasa Jawa.

Guru kemudian memberi bantuan atau bimbingan dan penjelasan secara lisan kepada siswa dalam mengarang dengan menggunakan media puzzle. Setelah siswa paham, kemudian siswa menuangkan apa yang telah dijelaskan guru dan dipikirkan siswa kedalam bahasa tulis dengan menggunakan bahasa Jawa secara baik dan benar. Pada proses mengarang tersebut, guru masih terus mengontrol tahap demi tahap segala kegiatan siswa dalam mengarang sampai siswa dapat menyelesaikan karangan tersebut.

Selesai mengarang, gambar puzzle masing-masing kelompok kemudian ditempel di papan tulis dan hasil karangan dikumpulkan. Guru secara acak memilih hasil karangan siswa dan siswa yang terpilih membacakan karangannya di depan kelas. Siswa lain kemudian menanggapi karangan naratif yang dibacakan temannya. Aspek yang dinilai oleh siswa adalah kesesuaian judul dengan isi karangan dan diksi atau pilihan kata. Sedangkan penilaian oleh guru dapat ditambahkan aspek ejaan dan tanda baca, struktur karangan serta kerapian tulisan.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan menulis karangan naratif berbahasa Jawa dengan menggunakan media puzzle ini dapat dilaksanakan lebih dari satu kali tatap muka, bisa secara kelompok atau individual. Dengan media puzzle ini siswa lebih mudah menuangkan gagasan di benak mereka sehingga hasil karangannya tidak keluar dari tema yang diberikan oleh guru.  Pembelajaran juga tidak membosankan karena diselipkan permainan menyusun puzzle di dalamnya.  Semoga bermanfaat. (*/bas)