Stay True, Stay sXe

Melawan Stigma Negatif dengan Pola Hidup Positif

657
JOHONAS BUDHI PAMUNGKAS-DEVADATA,XBETTERMIND.
JOHONAS BUDHI PAMUNGKAS-DEVADATA,XBETTERMIND.

PADA era 70–80-an, demam hardcore punk melanda Eropa dan Amerika. Para remaja pada era itu tergila-gila dengan hardcore punk, tepatnya setelah Minor Threat melesatkan debut self-titled mereka. Seiring dengan berkembangnya genre tersebut, pada era 80-an muncul pula pergerakan di hardcore punk scene yang gencar dibicarakan, yaitu straight edge. (rno/c14/dhs)

Straight to the Edge!

Straight edge merupakan pergerakan pola hidup positif dari anak muda pada era 80-an. Mereka berikrar untuk anti mengonsumsi narkoba, merokok, melakukan seks bebas, serta menjadikan positive mental attitude (PMA) sebagai jargonnya. Pada era tersebut, pergerakan itu gencar disuarakan untuk memberikan alternatif baru di hardcore punk scene. Sebab, saat itu scene tersebut dekat dengan gaya hidup negatif.

’’Peran sXe sangat penting bagiku. Sebab, di lingkunganku banyak teman yang mabuk-mabukan. Aku juga kerap menjadi sasaran bullying. Meski begitu, aku tetap positive thinking dan mau berbaur atau tidak mengeksklusifkan diri,’’ curhat Dandu, drumer band hardcore, Devadata.

Cerita di Balik Simbol X

Straight edge akrab dikenal dengan simbol sXe. Tanda X juga kerap dibubuhkan pada kedua punggung tangan atau bagian tubuh lain dari penganutnya. Tanda itu awalnya muncul saat The Teen Idles, band hardcore punk asal Amerika, tampil di Mabuhay Gardens, San Francisco. Ketika mereka akan tampil, manajemen klub baru mengetahui bahwa para anggota The Teen Idles masih di bawah umur. Padahal, poster acara telah disebar dan para penonton udah berdatangan.

Show pun tetap terselenggara. Menyiasati itu, manajemen klub memberikan tanda X besar di setiap punggung tangan anggota The Teen Idles. Tandanya, para staf klub nggak memberikan alkohol kepada setiap anggota The Teen Idles. Dari situlah awal mula tanda X menjadi ciri khas pergerakan straight edge.

Straight Edge di Indonesia

Demam pergerakan ini juga merambah ke tanah air. Terbukti, ada beberapa band hardcore dan punk yang menyebut dirinya sebagai band straight edge. Bahkan, ada beberapa personel band yang tegas menyatakan bahwa pergerakan itu memberikan dampak positif bagi kehidupannya seperti Dandu dari Devadata. Pria berperawakan sangar dengan tato di sekujur tubuhnya tersebut telah 16 tahun menjalani hidup sebagai straight edge dan seorang vegetarian.

’’Aku dengerin hardcore punk mulai era 90-an, sejak duduk di bangku SMP. Mulai mengenal sXe dari newsletter dan zine. Hingga akhirnya tertarik, tapi belum bisa sepenuhnya lepas dari alkohol dan drugs saat itu. Baru memasuki 2001, aku benar-benar lepas dari ketergantungan dan berusaha menjadi positive youth with positive thinking,’’ ucapnya.